Category: cerpen


Catatan hati Emak

Cerpen ini terpilih sebagai juara II Lomba Cipta Cerpen PORSEMA STAIN Purwokerto.

Malam itu tak berhias bintang. Namun, kau tetap menatap langit. Duduk memeluk lutut demi menepis nafas dingin sang dewi angin. Entah apa yang kau lihat di sela-sela gumpalan awan mendung itu. Bagiku, tak nampak apapun, tapi kau terlihat asyik memandangnya.

Di ujung jalan nampak beberapa orang berjaga di sebuah pos ronda. Mereka bercengkrama dan kukira sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Ah, andai kita bisa ikut menyeruputnya juga. Aku bahkan sudah lupa rasa kopi.

Jalan di depan kita telah lengang. Lampu-lampu jalan menyala redup. Tapi cukuplah untuk menerangi kita berdua. Lampu di emperan toko tempat kita duduk, mati. Mungkin putus. Namun kita telah terbiasa dengan gelap dan redup. Seperti itulah hidup kita selama ini. Kalau tidak gelap, ya redup. Tak pernah terang, apalagi benderang. Ah, tak guna lagi meratapi nasib. Ratapan tak akan mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Ratapan hanya akan membuat kita semakin terpuruk.

Mungkin tengah malam telah lewat. Kupandangi tubuh kurus di depanku. Bocah berumur 8 tahun itu masih menatap langit. Ia anakku.

Mak[1], kapan aku bisa sekolah?”

Jantungku seakan berhenti saat tiba-tiba kau ucapkan tanya itu. Telah berkali-kali kau tanyakan hal itu, namun sampai sekarang masih tak kutemukan jawabnya. Diam beberapa saat. Lalu kau menoleh padaku, mengharap sebuah kata meluncur dari bibir yang kering karena hari ini tak ada makanan yang membasahinya. Bibirku benar-benar kelu. Satu kata pun tak mampu kuucap. Aku merunduk menghindari tatapan mata penuh harap itu.

Helaan nafas panjang mengakhiri tatapanmu. Kau beranjak, menata lembaran kardus-kardus bekas, alas tidur kita. Lalu kau rebah, meringkuk menahan dingin karena tak berbalut selimut. Tak lama kau pun tertidur. Kuharap berjuta angan dan harapan yang bersemayam di benakmu itu menjelma menjadi mimpi indahmu malam ini.

Oh, anakku, maafkan emakmu yang tak mampu memberimu hidup yang layak. Selama ini kita hidup dari belas kasihan orang. Kadang harus rela tidak makan. Tidur di emperan toko. Siang kepanasan malam kedinginan sudah hal biasa bagi kita.

Aku menyadari, usia 8 tahun harusnya kau sudah bisa membaca, menulis, berhitung seperti anak lain sebayamu. Sering aku melihatmu memandangi bocah-bocah berseragam merah putih. Hatiku semakin perih. Mataku tak kuasa membendung air bening yang mengalir. Kutahu kau benar-benar ingin seperti mereka. Namun, nasib sial ini seakan tak mau pergi.

Suatu malam kau pernah berkata, “Mak, aku ingin menjadi menteri biar kita tidak kelaparan lagi. Biar emak bisa tidur di kasur yang empuk dan berselimut tebal, jadi tidak akan kedinginan lagi. Suatu hari, mak, aku yakin aku pasti meraihnya.” Harapan yang begitu menggebu kau katakan dengan penuh semangat. Maka aku hanya bisa mengamininya. Aku tak ingin menghancurkan impianmu itu.

Kadang aku berpikir mungkinkah anakku menjadi seorang menteri. Rasanya mustahil. Bagaimana mungkin menjadi menteri jika sekolah saja tidak. Bagaimana bisa sekolah jika untuk makan saja susah. Akhirnya itu hanyalah sebatas mimpi yang akan hilang saat terjaga. Mimpi yang entah akan terwujud atau hanya akan menjadi harapan kosong seorang bocah berusia 8 tahun. Kehendak Tuhanlah yang akan menjawabnya. Bukankah jika Tuhan menghendaki, segala yang mustahil akan menjadi nyata? Itulah yang dikatakan ustadz masjid yang terkadang memberi kita sedekah.

Telah lama kita mencoba bersabar. Namun itu sudah terlalu lama. Kesabaran sedikit demi sedikit digerogoti rasa putus asa yang akhirnya hanya ada kepasrahan. Kepasrahan pada nasib yang dilukiskan di telapak tangan kita.

Tidurlah, nak. Semoga mimpimu bisa menjelma nyata. Itulah bisikan hatiku sebelum ikut terlelap malam itu.

~

Mak, aku ditawari sekolah oleh ibu yang kutolong tadi siang.” Katamu di malam yang lain.

Alhamdulillah, nak. Memangnya siapa ibu yang berhati baik itu?”

“Aku juga belum tahu. Ia hanya memberikan alamat rumahnya bila sewaktu-waktu aku menerima tawarannya.”

“Tunggu apa lagi? Terima saja tawarannya. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan? Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang diberikan Tuhan padamu.”

“Tapi, mak…”

“Tapi apa?”

Hening beberapa saat. Aku menatap wajah anakku lekat-lekat. Di matanya kulihat keraguan. Mengapa tiba-tiba keraguan menyelimuti anakku. Anakku yang selalu semangat dan yakin dalam berbagai hal. Setelah hening yang membuat malam semakin senyap, kau pun melanjutkan kata-katamu.

“Ibu itu mensyaratkan aku menjadi anaknya barulah dia mau menyekolahkanku. Ibu itu bercerita bahwa telah lama dia dan suaminya menginginkan anak. Namun hingga di usia pernikahan mereka yang ke-20 belum juga dikaruniai anak.”

Oh, Tuhan. Mengapa harus ada syarat seperti itu. Syarat itu akan membuatku terpisah dari anakku. Tapi aku tak ingin anakku terus mengalami nasib sial ini. Dia harus menggapai mimpinya.

“Terimalah tawaran ibu yang baik hati itu, nak. Walaupun itu berarti kita akan berpisah. Tapi bukankah emak masih bisa menjengukmu? Emak janji akan sering menjengukmu.”

Senyum menghiasi wajah mungilmu. Pelukan hangat mengakhiri perbincangan kita malam itu.

~

Malam-malam selanjutnya aku lewatkan sendiri. Tak ada lagi bocah yang menatap ke langit. Air mataku berlinang saat kuingat wajah anakku. Setiap malam rindu selalu merasuk. Tapi aku harus menelan rasa rindu itu demi kebahagiaan dan masa depan anakku. Bocah 8 tahun dengan sejuta mimpi di benaknya. Aku hanya bisa berdoa semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti anakku.

Setiap minggu aku sempatkan menjenguknya. Anakku selalu menyambutku dengan wajah ceria. Ia akan menceritakan pengalaman-pengalaman barunya dengan begitu semangat. Bahagia rasanya melihatnya seriang itu.

Suatu hari di minggu kesepuluh aku kembali mendatangi rumah besar dan megah tempat anakku tinggal bersama orang tua angkatnya. Namun, tak seperti biasanya, rumah itu sepi. Tak nampak senyum ceria menyambutku. Senyum dari bocah yang selalu aku rindukan. Mengapa rumah ini begitu lengang. Aku berkali-kali memencet bel dan menunggu di depan gerbang yang terkunci. Cukup lama hingga akhirnya seorang perempuan keluar menghampiri gerbang.

“Maaf bu, di sini tidak melayani sumbangan.”

“Saya bukan mau minta sumbangan, mbak. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya yang tinggal di sini.”

“Sayang sekali bu, keluarga yang tinggal di sini sudah pindah ke Jakarta dua hari yang lalu. Rumah ini akan dijual.”

Duh Gusti, aku tak kuasa menopang tubuhku. Aku terduduk lemas. Tak sanggup berkata-kata. Air bening mengalir dari mata yang semakin cekung. Kini, mata ini tak bisa lagi melihat senyum bocah dengan sejuta mimpi di benaknya. Ya, bocah itu telah pergi jauh meninggalkanku. Tanpa ada kata perpisahan. Tak tahu kapan ia akan kembali.

Oh, Tuhan. Beginikah akhir kisah kami. Aku yang semakin renta ini harus kehilangan anakku. Sungguh, aku ingin menghabiskan akhir hidupku bersama anakku. Berlama-lama memandang wajahnya dan mendengar tawanya. Namun kini, wajah itu hanya bisa kukenang. Tawa itu tak bisa lagi kudengar. Aku tak tahu bagaimana akan kuhabiskan hari-hariku tanpa dirinya. Anakku tercinta.

~

Nak, ingatkah kau pada emakmu yang renta ini? Emak yang selalu merindukanmu di kala embun masih memeluk mentari. Kini, genap sepuluh tahun emak menunggumu di kota kecil ini. Kota tempat dulu kita bergelut dengan kesengsaraan. Ingatkah kau pada emperan toko tempat kita duduk menghabiskan malam sambil menatap ribuan berlian di langit. Di sanalah kau gantungkan sejuta impianmu. Lalu kita akan segera terlelap. Walau hanya beralas lembaran kardus bekas tanpa secuil selimut untuk menepis nafas dingin sang dewi angin. Membawa jutaan mimpi itu ke dalam tidur kita.

Nak, lupakah kau pada emakmu yang ringkih ini? Mengapa kau tak kunjung kembali. Doa emak selalu mengalir untukmu di tiap malam yang paling sunyi. Hanya untukmu, anakku. Semoga kau dapat meraih impian-impian yang tidak bisa emak berikan. Namun ingatlah, nak. Jika telah kau raih impian-impian itu, janganlah takabur dan kesombongan meracunimu. Aku tak ingin kau terjerumus pada kesengsaraan yang lebih dahsyat di kehidupan yang akan datang. Kehidupan di mana penyesalan tak berarti lagi.

Nak, sudah seperti apa kau sekarang? Ingin kutatap wajahmu. Ingin kudengar tawamu. Wajah yang hampir kulupa karena emakmu ini semakin renta. Kau pasti telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Pemuda tampan yang menjadi dambaan perempuan. Tapi bagiku kau tetap bocah mungilku. Bocah dengan sejuta impian yang selalu kurindu.


[1] Panggilan untuk ibu

Iklan

Oleh : Ninna Zahrana

 

Kang, hidup di kota metropolitan memang tidak semudah menghirup udara pagi yang menyejukkan. Kita harus bergelut dengan rasa takut dan gengsi demi bertahan hidup. Belum lagi sikap orang-orang kota yang acuh, tidak peduli satu sama lain, sibuk dengan urusannya masing-masing. Deretan mobil-mobil pribadi bagaikan ular super panjang yang tak pernah putus sepanjang jalan. Asap yang mengepul dari knalpot metromini menambah polusi. Gedung-gedung megah berdiri kokoh dengan angkuhnya, seakan mengejek perkampungan kumuh di sekelilingnya. Ah.. apa enaknya hidup di kota.

Kang, aku sering bertanya-tanya mengapa dulu kita pindah ke kota ini. Kita meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota. Masihkah kau ingat jernihnya kali dan sawah yang hijau subur menambah indahnya panorama desa kita. Malam berkalung ribuan berlian di langit membuatku ribuan kali ucapkan syukur pada Penciptanya. Pernah suatu malam kau berjanji akan memetikkan satu di antara ribuan berlian itu untukku. Namun, janji itu tinggalah janji sebab kini sulit bagi kita untuk menikmati keindahan berlian-berlian itu. Mereka sembunyi karena gemerlap lampu-lampu kota telah mengalahkan cahayanya.

Kau boyong aku ke kota ketika umur pernikahan kita baru seminggu. Tergiur rayuan orang tentang kehidupan kota yang menjanjikan membuat kita tidak lagi betah hidup di desa yang serba sulit. Maka, aku pun dengan setia ikut denganmu walau kutahu kau tak punya rencana matang tentang nasib kita di kota nanti. Kita telah terbuai iming-iming semu. Kini kutahu hidup di kota lebih sulit dari yang dibayangkan.

Apa yang bisa ditawarkan oleh orang udik yang hanya lulus SMP? Pengalaman tak punya, apalagi keahlian. Itulah yang terpikir pertama kali menginjakkan kaki di kota. Namun, kau tak pernah menyerah begitu saja. Setiap hari kau berusaha mencari pekerjaan, walaupun akhirnya hanya lelah yang kau dapat. Selama beberapa minggu hidup kita ditanggung oleh tabungan. Ketika tabungan itu hampir tak tersisa, kau memutuskan untuk bekerja serabutan. Walau dengan penghasilan kecil dan tidak menentu, yang terpenting cukup untuk makan.

Rumah kontrakan sempit ini menjadi saksi bahtera rumah tangga kita. Di sinilah terekam kebahagiaan dan kesedihan kita. Ya, kesedihan karena tidak berhasil mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Hidup pas-pasan, perut pun kadang harus puasa. Tetapi semua itu tak membuatku bersedih. Selama kau berada di sisiku maka aku akan merasa bahagia.

Dua tahun pernikahan kita, Ratih, putri pertama kita lahir. Aku masih ingat raut kebahagiaan yang terpancar di wajahmu waktu itu. Putri kita mungil dan lucu. Ia memiliki mata indah sepertimu dan katamu hidungnya adalah jelmaan hidungku. Saat itu, tak terpikir oleh kita, dengan bertambahnya anggota keluarga, maka akan bertambah pula biaya hidupnya.

Tahun ke delapan pernikahan kita…

Ratih telah berumur enam tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat walaupun perawakannya kurus dan terlihat tak terurus. Tahukah kau, Kang. Berkali-kali ia bertanya padaku kapan ia bisa sekolah. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain, belajar membaca, menulis, berhitung dan lain-lain. Ia bercerita tentang temannya, Lastri, yang sudah bisa membaca rangkaian huruf yang terpampang pada papan kayu di depan Kantor Kecamatan. Betapa ia bersemangat untuk bisa sekolah. Namun aku hanya bisa mengusap rambutnya dan menghiburnya dengan kata-kata manis pengharapan. “Sabar ya, nak.”

Kang, aku tahu bila mengandalkan penghasilanmu saja, tentu tidak akan cukup membiayai sekolah Ratih. Untuk makan sehari-hari saja kita sudah cukup kesulitan, apalagi bila nanti ditambah dengan biaya sekolah.

Tapi sejak saat itu, kau semakin giat bekerja. Berangkat pagi-pagi buta, pulang malam. Tak ada lagi waktu senggang untuk kita berkumpul dan bercanda. Sebelum tidur kau sempatkan menengok Ratih yang telah terlelap. Kau selimuti dia lalu kau kecup keningnya, seakan-akan sirna segala penatmu hanya dengan melihat wajah mungilnya.

Setelah kerja kerasmu, akhirnya tabungan kita cukup untuk memasukkan Ratih ke Sekolah Dasar. Betapa gembiranya Ratih ketika ia mengenakan seragam barunya. Merah putih. Warna bendera negara kita. Lengkap dengan dasi dan topinya.

Tiga tahun berlalu…

Hari itu masih pagi. Mentari masih enggan keluar dari singgasana megahnya.

Kang, SPP Ratih sudah telat lima bulan.” Aku memulai pembicaraan sekedar mengingatkanmu akan tunggakan SPP Ratih.

“Iya, Bu. Aku tahu itu. Semoga hari ini banyak orang di pasar yang menggunakan tenagaku. Jadi kita bisa mendapat cukup uang untuk melunasi SPP Ratih.” jawabmu.

“Amin. Semoga Allah melimpahkan rizkiNya pada kita hari ini.” kataku penuh pengharapan.

Akang janji hari ini akan membawa uang agar Ratih tidak dikeluarkan dari sekolah.”

Aku hanya bisa tersenyum mengantarkan kepergianmu. Semoga Allah selalu menyertai-Mu, Kang. Kaulah suami yang terbaik. Suamiku tercinta.

 

Adzan berkumandang dari mushola dekat rumah kontrakan kita, tanda telah masuk waktu ‘Isya. Namun, aku masih termangu di ambang pintu menunggu kedatanganmu. Mengapa kau tak kunjung pulang, Kang? Pertanyaan itu berkali-kali kuucap dalam batinku. Rasa khawatir hinggap di hatiku. Aku berjalan mondar-mandir di depan teras. Cemas.

Satu jam berlalu sejak adzan yang merdu menyeru umat untuk menghadap Tuhannya. Ya, sholat. Itulah jawaban untuk keresahanku. Akhirnya kuputuskan untuk mengadukan segala gundah kepada Tuhanku. Lekas kuambil air wudhu. Lalu kuhadapkan diri ini padaNya. Memohon keselamatan atas akangku tersayang.

Setelah bercengkrama dengan Sang Maha Cinta, hatiku tenang kembali. Ku tengok sebentar ke kamar Ratih. Kulihat ia sudah pulas tertidur. Kurapikan letak selimutnya. Lalu kuusap rambutnya. Bocah kecil ini harus hidup menderita, bahkan terancam putus sekolah. Tak dapat kubendung lagi air bening yang memaksa keluar dari mataku. Akhirnya, kutinggalkan Ratih sendiri menikmati mimpi indahnya. Mimpi indah yang akan hilang saat dia terbangun nanti.

Aku lanjutkan penantianku. Duduk di kursi kayu yang menghiasi teras rumah kontrakan kita. Malam semakin larut. Masih juga tak nampak sosokmu. Ada firasat aneh yang menyelinap membuat hati ini semakin tak tenang. Astaghfirullah… Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. “Allah, selamatkanlah suamiku.” Bisikku pada hati yang gelisah ini. Do’aku tak henti kulantunkan untukmu, Kang.

Kucoba menahan kantuk yang mulai menggoda mata ini untuk menutup kelopaknya. Lampu 5 watt menemani penantianku ini walau dengan cahayanya yang redup. Saat mata ini hampir tak bisa kutahan lagi, terlihat samar sosok yang berjalan mendekat dengan tergesa. Semakin lama semakin dekat, menuju ke arahku duduk. Dalam hati aku mengira itu adalah sosokmu, Kang, orang yang sejak tadi kunanti. Perasaan lega dan bahagia sesaat hinggap di hati. Namun, saat lampu 5 watt menyinari sosok itu, kecewalah hatiku karena ia bukanlah dirimu. Laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah pak RT itu datang dengan wajah penuh gelisah. Nafasnya tersengal sehabis berjalan tergesa-gesa.

“Ada apa pak RT datang malam-malam begini ke rumah saya?” tanyaku segera. Ada rasa khawatir yang merasuk. Khawatir ada kabar buruk, terutama kabar tentangmu.

Sesaat kubiarkan pak RT mengatur nafasnya.

“Su.. suamimu…” katanya masih tersengal.

“Ada apa dengan suami saya pak RT?” khawatir semakin membuncah di hatiku.

“Su.. suamimu… kecelakaan tadi sore. Ia ter… tertabrak truk. Saksi mengatakan ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.” Jelas pak RT dengan terbata-bata.

Petir menyambar hati ini. Oh, betapa aku tak kuasa lagi menopang tubuhku saat itu. Kurasakan dunia tak lagi nampak di mataku. Semuanya kosong. Lalu gelap.

Saat kubuka mataku, telah ramai orang mendatangi rumah kontrakan sempit ini, Kang. Kepalaku benar-benar terasa pusing. “Ada apa ini? Mengapa banyak orang di sini?” batinku. Seorang ibu memelukku sambil menangis. “Sabar ya.” Itulah yang dia ucapkan. Saat itu aku ingat, Kang. Aku ingat berita itu. Kau tak akan pernah lagi pulang membawa senyuman untukku dan Ratih. Kau pulang untuk terakhir kalinya dalam keadaan kaku terbungkus kain kafan. Sesak dada ini, melihatmu datang tanpa senyuman menghiasi wajahmu.

Kupeluk Ratih yang menangis. “Bu, bapak kenapa? Kok Ratih panggil-panggil tidak menjawab?” Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Oh Tuhan, ia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan ini.

Orang-orang di sekelilingku berusaha menghibur dan menenangkanku. Dalam hati kuberkata, ”Aku tak sanggup, Kang. Mengapa kau tega meninggalkanku?”

Saat tiba waktunya kau dibawa pergi, aku masih sangat berat untuk melepasmu. Tapi akhirnya kupasrahkan semuanya pada Sang Pemilik Semesta. Dialah yang lebih berhak atasmu. Kulihat kereta beroda manusia membawamu menuju rumah yang sebenarnya. Rumahmu kini bukan rumah kontrakan lagi. Ialah rumah Tuhan Yang Maha Agung.

Selamat jalan, Kang. Semoga kau tenang di sisiNya.

Sehari setelah pemakamanmu, seorang laki-laki paruh baya mendatangi rumah kita, Kang. Ia membawa sejumlah uang dan menyerahkannya padaku. Orang itu berkata uang ini ditemukan di saku celanamu saat kau tertabrak. Dua ratus ribu rupiah. Oh, akangku tersayang, kau tepati janjimu. Kau telah dapatkan uang untuk membayar SPP Ratih. Entah bagaimana susahnya kau dapatkan uang ini. Aku yakin kau telah bekerja keras. Tetapi, mengapa hanya uang ini yang kembali, sedangkan kau tak akan pernah pulang lagi. Apalah arti uang ini jika harus kehilanganmu, Kang.

Beberapa hari aku dan Ratih hidup dari belas kasihan tetangga. Aku bersyukur di kota yang penuh sesak ini masih ada orang yang mau peduli pada sesamanya. Namun akhirnya, aku mulai menata kembali hidupku. Aku tak mau berlarut-larut meratapi kepergianmu. Apalagi aku masih punya Ratih. Dialah obat bagi kesedihanku. Aku akan menjaga dan membesarkannya sepenuh hati. Aku pun akan berusaha agar ia bisa terus bersekolah. Ia harus menjadi orang yang sukses supaya tak lagi ada air bening yang menetes dari mata indahnya. Mata indah yang selalu mengingatkanku akan dirimu.

Kang, setahun terakhir ini, aku dan Ratih hidup dari penghasilanku menjahit. Nafkah terakhirmu itu setelah dipotong SPP Ratih, sisanya ditambah pinjaman tetangga, kugunakan untuk membeli mesin jahit. Untungnya dulu di desa aku pernah belajar menjahit pada Bu Susanti, guru Tata Busana di SMP. Alhamdulillah, hasilnya cukup untuk hidup kami berdua. Kau tak usah risau lagi, Kang. Kami baik-baik saja di sini. Kuyakin kau pun baik-baik saja di sana.

Akhirnya, kuakhiri surat ini teriring rasa rindu untukmu. Selalu untukmu, Kang.

 

Istri yang selalu merindukanmu

 

Lasmi melipat lembaran kertas yang kini penuh dengan tulisan tangannya. Beberapa di antaranya basah oleh tetesan air bening yang membuat beberapa huruf sulit dibaca. Dimasukkannya surat itu ke dalam amplop yang telah berperangko. Sejenak Ia menatap amplop yang kini telah gemuk berisi beberapa lembar kertas. Bingung. Apa yang harus ia tulis di bagian alamat tujuan. Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia tuliskan beberapa kata di situ.

Kepada :

Akang

di Taman Surga

Aku masih ingat betul betapa indahnya kampung kita. Dulu. Dulu, saat asap dan abu itu belum mengepul dan menghujani kampung ini. Saat api dan cairan panas itu belum muntah dari perut Merapi. Gunung kebanggaan kita. Gunung yang kini hanya menyisakan serpihan pilu. Sejak meletus dua tahun silam, tak ada lagi yang tersisa dari keindahan alamnya. Sawah-sawah yang dulu hijau berubah menjadi tanah yang gosong. Pohon-pohon di hutan lindung itu pun hanya tinggal batang pohon yang hitam dikelilingi abu. Abu daun-daun, abu rumah-rumah, abu manusia-manusia.

Tunggul Arum, nama kampung kita. Letaknya di desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Berada di kawasan barat lereng Merapi membuat keindahan panoramanya tak perlu diragukan lagi. Aneka flora dan fauna tumbuh makmur di sana, ditambah tempat-tempat sakral seperti : Gua Semar, Kedung Cuwo, Sendang Pancuran, Pring Wali, dan Batu Tunggang membuat siapapun akan betah berada di sini. Di kampung kita.

Aku pun masih ingat betul, saat pertama aku melihatmu. Bocah laki-laki yang kutemui saat Merti Bumi. Ya, Tunggul Arum selalu melaksanakan tradisi ini. Romoku berkata tradisi ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan nikmatNya kepada masyarakat dusun. Sesuai namanya, Merti Bumi berarti memetri (memelihara) Bumi (tanah), menjaga dan melestarikan dengan sebaik mungkin. Tradisi ini dilakukan setiap bulan Sapar penanggalan Jawa. upacara bersih dusun yang merupakan tradisi warisan leluhur dari waktu ke waktu. Telah bertahun-tahun, Romo dipercaya memimpin prosesi adatnya.

Tradisi Merti Bumi diawali pengambilan air suci dari empat sumber yaitu dari padukuhan Tunggul Arum, padukuhan Manggungsari, padukuhan Kembang dan padukuhan Dadapan. Air suci itu kemudian dibawa ke Balai Desa Wonokerto dan dibawa keliling desa dengan gunungan salak dan tumpeng menuju lapangan Tunggul Arum. Aku tak pernah ketinggalan mengikuti iring-iringan gunungan dan tumpeng itu. Orang-orang desa membawa pula hasil bumi seperti sayur dan buah. Iringan musik gamelan semakin menambah suka cita. Sampai di lapangan, gunungan dan tumpeng serta hasil bumi lainnya akan didoakan. Romo pun memimpin kenduri itu. Setelah selesai didoakan, saat yang kutunggu-tunggu pun tiba. Gunungan salak dan hasil bumi serta tumpeng itu diperebutkan masyarakat dusun demi mengharap berkah. Lapangan Tunggul Arum mendadak riuh oleh teriakan orang-orang. Dengan tubuhku yang kecil ini, membuatku mudah menelusup di antara tubuh orang-orang yang berdesak-desakan itu. Aku berhasil mendapatkan 3 buah salak. Akan kumakan bersama Romo nanti.

Lagi-lagi aku masih ingat betul, saat berjalan pulang membawa 3 buah salak, tampak seorang bocah laki-laki menghampiriku. Ia membawa beberapa ikat sayur dan memberikannya kepadaku. Merasa tak kenal, aku menolaknya. Namun, bocah itu memaksa. “Ambilah dan masakkan untukku!” Ia lantas pergi tanpa mengucapkan nama agar aku mengenalnya. Itulah pertama kali aku melihatmu.

Hari berikutnya, aku datang ke lapangan ini membawa nasi dan sayur yang telah kumasak. Aku memang gadis cilik, tapi aku sudah memasak untuk Romo sejak ibu meninggal saat usiaku 6 tahun. Aku menunggu hingga senja, namun tak tampak sosok dirimu hadir disini. Aku pun pulang membawa nasi dan sayur yang telah dingin. Esok harinya, aku datang lagi ke tempat ini. Nihil. Hingga di hari ketiga, kau datang dengan hiasan senyum di wajahmu. Nasi dan sayur yang kubawa kau makan dengan lahap. “Kowe pinter masak.” Kata-kata itu terucap setelah suapan yang terakhir. Usai makan barulah kita saling bicara. Dan saat itulah kutahu namamu Aryo.

Lapangan Tunggul Arum ini tersisa serpihan kenangan saat bersamamu. Disanalah aku biasa menemanimu menggembala kerbau. Dari pohon jambu di pinggir lapangan itu kita mengawasi kerbau-kerbau melahap rumput yang tumbuh hijau. Sambil menikmati buah jambu yang merah ranum, canda tawa kita membahana mengisi kesunyian di hari yang panas musim kemarau. Anak-anak di desa ini memang sudah dari kecil menggembala kerbau. Apalagi hiburan bagi kami selain kerbau-kerbau itu.  Sebagai bocah gunung yang tidak mengenyam pendidikan lebih dari sekolah dasar, kerbau menjadi lahan pekerjaan setelah lulus. Kerbau adalah aset berharga bagi keluarga petani. Walau kini jaman sudah mengubah kerbau menjadi traktor, tetapi petani-petani di desa ini masih mempertahankan tandur tradisional. Bagi mereka, penting untuk bisa nguri-uri warisan yang sudah turun temurun mengikat mereka. Memang ada beberapa yang telah mengikuti jaman, namun itu bisa dihitung dengan jari.

Hampir delapan tahun sejak itu. Dan masih aku ingat betul, sejak senja di tanggal 11 bulan ke 3, aku tak lagi melihat sosokmu. Hari itu, terakhir kalinya kita menggembala bersama. Tanpa ucapan pamit, kau tinggalkan aku sendiri. Pohon jambu ini pun tampak layu tanpa kehadiranmu. Tanah lapang ini begitu sunyi tanpa gelak tawamu yang selalu membuatku bahagia. Hanya satu kalimat yang kau ucapkan saat kita berpisah di ujung jalan itu. “Sri, aku akan pergi ikut Romoku ke kota.” Tak sepatah katapun aku ucapkan. Tubuhku mendadak kaku. Aku masih berdiri mematung, saat kau balikkan tubuhmu pergi ke arah rumahmu di ujung timur desa ini. Hari itu aku memang hanya bocah cilik yang tak mengerti arti cinta, namun saat itu aku merasa begitu kehilangan sosok lelaki yang kuimpikan kelak menjadi suamiku.

Ya, delapan tahun telah berlalu sejak itu. Tak ada surat tak ada kabar darimu. Yang kutahu dari simbahmu, kau melanjutkan pendidikan di kota. Memang masih aku ingat betul, kau pernah berkata, “Aku ingin jadi insinyur, Sri. Jadi, maukah kau menungguku?” Apa mimpimu itu yang membuatmu meninggalkanku seperti ini? Aku masih terus menunggu, hingga datang seseorang meminangku. Namun bukan dirimu. Dia laki-laki yang juga kukenal sejak usiaku 15 tahun. Namun tak seperti kukenal dirimu dengan segala kesahajaanmu.

Romo adalah seorang abdi ndalem Keraton Yogyakarta. Ia selalu patuh dan setia pada hukum tradisi yang selama ini masih dilestarikan baik di lingkungan Keraton maupun di Tunggul Arum. Tugasnya adalah melayani menantu Sri Sultan, Kanjeng Surodiningrat. Aku sering diajak Romo ke kediamannya. Keraton berbeda dengan Tunggul Arum. Di sana segala sesuatu begitu teratur, tertib, dan bersih. Hanya satu yang tak kusuka dari tempat itu. Sunyi. Strata dan kasta begitu mencolok. Tak seperti Tunggul Arum yang selalu ramai dengan gelak tawa bocah-bocah gunung yang asyik duduk di punggung kerbau mereka. Tak ada strata ataupun kasta yang membedakan.

Namun, aku bersyukur Kanjeng Surodiningrat bersikap baik kepada abdi-abdinya. Lebih-lebih pada Romo. Karena kebaikan hati Kanjeng Surodiningrat, aku bisa terus bersekolah. Romo pernah bercerita tentang niat baik Kanjeng Surodiningrat membiayai pendidikanku.

Anakmu si Sri kae ayu tenan. Bocahe uga pinter. Eman-eman nek upamane mung ana ndusun. Adoh kawruh, adoh srawung.”[1]

Kados pundi malih, Ndara. Dalem niki namung abdi. Mboten gadah kuwaos napa-napa. Sri punika lare manut. Nrima punapa kahananipun tiyang sepuh.”[2]

Mendengar jawaban Romo, agaknya Kanjeng Surodiningrat semakin mantap membebaskanku dari kebodohan. Aku dan Romo berhutang banyak pada keluarga menantu Sultan itu. Seandainya ada batangan emas sebesar Merapi, itupun tak cukup untuk membalas kebaikannya.

Suatu malam Romo memanggilku duduk berbincang di teras rumah. Setelah perbincangan ringan, Romo mengatakan sesuatu dengan wajah berubah serius, “Nduk, Romo iki abdi ndalem. Romo terikat dengan dawuhe Kanjeng Surodiningrat. Jadi, Romo mohon kamu bisa mempertimbangkan posisi Romo. Kita ini hanyalah wong cilik yang hidupnya tergantung dening kuwasane Pandita Ratu. Jadi, tolong pikirkan matang-matang tentang niat baik Raden Joko Surodiningrat meminangmu.”

Usai perbincangan malam itu, aku hanya berdiam diri di kamar. Kamar ini terasa pengap seakan tak cukup lagi udara untukku bernafas. Entah berapa tetes butiran air bening membasahi kainku. Apa yang semestinya kulakukan? Dan lagi-lagi kau tak di sisiku.

Ya, Raden Joko Surodiningratlah yang telah meminangku. Namun hingga kini aku belum menemukan jawaban mengapa ia meminang gadis desa yang miskin sepertiku? Mengapa pula Kanjeng Surodiningrat mau menyetujui? Walaupun kini statusku sarjana, tapi bukankah aku masih berdarah rakyat jelata? Aku bisa sarjana itupun karena belas kasihan Kanjeng Surodiningrat. Aku benar-benar tidak mengerti semua ini. Adakah ketulusan dari rencana ini?

Aku tentu masih ingat betul, Suatu pagi di hari Minggu, Romo mengajakku berkunjung ke Keraton. Seperti biasa, sementara Romo melaksanakan tugasnya, aku diperbolehkan berjalan-jalan menikmati keindahan Keraton. Saat berjalan menyusuri komplek Kasatrian, tampak olehku seorang anak laki-laki duduk di tepi kolam. Pakaiannya bagus, batik halus berwarna cerah. Pikirku pastilah ia anak seorang bangsawan. Langkah kakiku tak berhenti, terus berjalan walau mataku sejak tadi telah berhenti pada sosok yang diam itu. Wajahnya terlihat murung. Kuhentikan langkahku. Sejenak berpikir, dan kulangkahkan lagi kedua kakiku. Namun, tak lagi ke arah tujuan semula. Langkah kakiku menuju sosok yang muram itu. Agaknya, sosok yang kuhampiri itu menyadari kedatanganku. Langkahku kembali terhenti saat sepasang mata yang jernih itu menatapku. Sesungging senyum menyambutku. Sepertinya ia senang dengan kedatanganku. Ia tak menganggapku orang asing walaupun kenyataannya memang begitu. Aku kembali melangkahkan kakiku mendekatinya. Lalu duduk di sampingnya. Memandang ke arah kolam berwarna keemasan tertimpa matahari pagi yang hangat. Perbincangan dimulai. Dan barulah kutahu, ia putra Kanjeng Surodiningrat.

Walaupun terpaut umur 6 tahun, persahabatanku dengan Raden Joko Surodiningrat cukup erat. Kata Romo, Raden Joko selalu menanyakan kapan kedatanganku ke keraton lagi. Setiap kedatanganku ia sambut dengan gembira. Ia selalu senang menyimak cerita-ceritaku tentang Tunggul Arum. Kuceritakan pula tentang dirimu. Pertemuan dan Kepergianmu.

Dan kini, aku harus menghadapi pilihan yang sulit. Cinta dan balas budi. Mana yang harus kupilih? Sampai detik ini, aku terus menunggumu. Menunggu teman sekaligus kekasih hati yang lama menghilang. Tapi sampai kapan? Saat kusadari itu hanya akan sia-sia, maka tlah aku putuskan jawabanku. Kupilih balas budi.

Lalu, apa yang aku dapat? Kemewahan? Kekuasaan? Kebahagiaan? Semua itu omong kosong. Persahabatan menjadi cinta terbukti tak selamanya sejati. Raden Joko yang kini suamiku, tak lagi pernah menyentuhku. Tak lagi sempat bersama menikmati hangatnya mentari pagi di tepi kolam. Ia terlalu sibuk dengan kekuasaan dan bermewah-mewah. Aku hanyalah pemuas nafsu saja. Terkadang aku layaknya pajangan dinding yang tak dihiraukan. Saat itulah baru kusadari, bangsawan dan jelata tak bisa benar-benar dileburkan.

Saat-saat kesendirianku. Berteman kesunyian. Terbayang pancaran wajahmu menyunggingkan senyum. Senyum yang sama seperti saat pertama takdir Tuhan mempertemukan kita. Senyum yang selama lebih dari 20 tahun ini aku rindukan. Senyum dari sosok yang sampai detik ini tak kutemukan bayangannya.

Tahukah kau, hingga kini aku masih menunggumu. Biarlah pilihan hidupku salah, asalkan pilihan hatiku selalu benar. Aku memilihmu untuk mengisi relung hatiku. Entah kau tahu atau tidak. Entah kau akan kembali atau tidak. Aku akan terus menunggu. Hingga senja yang menutup usia.


[1] Anakmu si Sri sangat cantik. Pintar pula. Sayang kalau hanya tinggal di dusun. Jauh ilmu, jauh pergaulan.

[2] Mau bagaimana lagi, tuanku. Saya ini hanyalah abdi (pelayan). Tidak punya kekuasaan (harta). Sri itu anak penurut. Menerima apapun keadaan orang tuanya.

Cerpen Pesona Ledhek Ngrajek

*Cerpen Dewi Nina Sari

(Nominasi Lomba Cipta Cerpen OBSESI PRESS th.2011)

Senja mengakhiri bulan Februari. Aku termenung di ambang jendela. Kutatap langit senja yang keemasan di ufuk barat. Cahaya bundar itu mulai berangsur-angsur hilang ditelan bumi, lelah setelah bersinar seharian. Burung-burung terbang pulang ke sarang. Dari jendela kamarku ini, aku bisa melihat hamparan padi yang hijau bagaikan permadani. Kulihat sosok lelaki paruh baya memanggul cangkul dan menggendong tabung berisi obat pemberantas hama. Agaknya ia telah selesai dengan pekerjaannya hari ini. Padi-padi itu telah disemprotnya sehingga tak perlu khawatir lagi dengan hama-hama yang menghambat pertumbuhan dan kesuburan padi. Peluh di sekujur tubuh membuat kulit yang hitam legam itu berkilau, tanda kerja kerasnya hari ini. Hewan-hewan gembala digiring pulang ke kandang oleh penggembalanya. Kenyang sudah seharian menikmati rumput yang lezat. Induk ayam pun mulai berceloteh memanggil anak-anaknya agar segera masuk kandang. Tiba saatnya beristirahat menikmati malam yang panjang.

Aku selalu menyukai suasana senja. Senja begitu indah. Senja mengingatkan penghuni bumi untuk bersiap menyambut sang malam. Langit malam yang berkalung ribuan berlian. Namun, senja kali ini membuat dadaku terasa sesak hingga sulit kuhirup udara yang menari-nari di sekelilingku. Hembusan angin senja yang membelai mesra rambutku pun tak lagi terasa sejuk. Air bening tak henti mengalir membasahi pipiku. Hatiku meratap, menyumpahi penyesalanku.

Di saat seperti ini aku begitu merindukan ibu. Ibu yang selalu menggendongku ke pasar. Saat usiaku 6 tahun ibu masih mau menggendongku walau dengan kepayahan. Sering kali aku tertidur di punggungnya. Kurasakan begitu nyamannya punggung ibu yang mulai renta. Namun, kini aku tak pernah lagi menatap wajahnya, apalagi memeluk punggungnya. Aku hanya bisa memeluk gundukan tanah di area pemakaman yang terletak di sebelah selatan desa. Oh ibu, mengapa kau begitu cepat meninggalkanku. Mengapa kau pergi disaat aku masih membutuhkan kasih sayangmu.

Sejak kepergian ibu, aku diasuh oleh bu lik[1]. Suami bu lik minggat meninggalkan dirinya seorang diri mengasuh aku dan tiga anaknya. Hidup kami memang tidak bisa dikatakan mapan. Hidup di desa dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Bisa makan dengan tiwul[2] dan sambal saja sudah untung. Sering aku melihat bu lik begitu kelelahan sepulangnya tandur[3] di sawah juragan Gito. Ya, dia hanyalah seorang buruh tani. Penghasilannya yang kecil membuatku harus mengalah untuk tidak meneruskan sekolah. Aku meninggalkan bangku sekolah di kelas 5 SD. Aku sadar aku harus mengalah dengan sepupu-sepupuku. Sejak itu, aku ikut membantu pekerjaan bu lik di sawah.

Setiap pagi saat aku dan bu lik mulai berangkat ke sawah, aku selalu melihat anak-anak sebayaku memakai seragam, sepatu, dan tas yang bagus. Aku menghentikan langkahku, sejenak melihat mereka begitu riang berjalan menuju tempat mereka menimba ilmu. Saat itu kurasakan betapa aku ingin seperti mereka. Aku masih akan berdiri mematung kalau saja bu lik tidak berteriak memanggilku, menyuruhku segera menyusulnya. Kutinggalkan iringan anak-anak sekolah itu. Kutinggalkan pula impian-impianku.

Satu hal yang menjadi hiburanku adalah pentas tayub yang sering diadakan pada pesta pernikahan, syukuran atau hajat lainnya di desaku. Aku senang melihat ledhek-ledhek[4] yang cantik itu menari dan nembang[5]. Kutirukan setiap gerakan tarian mereka hingga lama-kelamaan aku hafal. Seringkali saat menonton, aku membayangkan dirikulah yang sedang menari disaksikan banyak warga desa. Goyangan lincah sang ledhek diiringi suara gamelan membentuk harmoni. Belum lagi daya tarik kecantikan yang dapat menyihir setiap penontonnya. Banyak orang mengatakan bahwa ledhek-ledhek itu memakai susuk untuk memikat penontonnya, terutama laki-laki. Hal ini tak lain agar mereka selalu dipuja dan laris sehingga mendapat saweran yang banyak. Entahlah, aku tak tahu pasti kebenarannya. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahaminya.

Desaku, desa Ngrajek, terletak di kecamatan Tanjung Anom, kabupaten Nganjuk memang masih melestarikan kesenian tayub sebagai hiburan rakyat. Bagi warga desaku, menjadi ledhek merupakan kebanggaan tersendiri. Selain kecantikan dan kepiawaiannya, ledhek juga dipercaya memiliki daya magis. Jadi tidak sembarang orang bisa menjadi ledhek. Konon, cium sayang sang ledhek dapat mendatangkan nasib mujur. Itulah sebabnya suatu hari seusai pentas tayub, bu lik membawaku menemui ledhek tercantik di paguyuban tayub itu. Saat itu, sudah satu minggu aku sakit panas. Bu lik meminta ledhek itu menyium pipiku kanan dan kiri, dengan harapan sakitku segera sembuh. Selain itu juga agar aku mewarisi kecantikan sang ledhek serta bernasib mujur.

Bu lik selalu mengizinkanku menonton pentas tayub asalkan tidak sampai larut malam. Agaknya bu lik memahami bahwa tayub adalah satu-satunya hiburanku agar aku bisa sejenak melupakan keinginanku untuk bersekolah seperti teman-teman sebayaku. Tayub memang membuatku melupakan impianku itu. Namun, tayub juga telah membuatku memiliki impian-impian yang lain. Impian-impian baru untuk menjadi seorang ledhek primadona di paguyuban tayub. Ya, suatu hari nanti, aku ingin seperti ledhek yang telah memberi kecupan mesra di pipiku.

Ledhek-ledhek Ngrajek terus menari. Hingga tiba saatnya sampur dikalungkan pada penonton laki-laki pilihan sang ledhek untuk diajak menari bersama. Saweran-saweran mulai memenuhi tangan sang ledhek. Bila sudah begitu, aku akan segera berlari pulang. Aku masih terlalu kecil untuk menonton adegan selanjutnya. Aku memang senang melihat ledhek-ledhek itu menari dan menyanyi. Namun aku tak suka jika tangan-tangan nakal penayub mulai merusak seni yang terkandung di dalamnya.

***

“Bu lik, aku ingin seperti mbak Sri.” Kataku suatu hari pada bu lik saat kami sedang membakar dami[6]. Saat itu bulan Juni sudah masuk mangsa kasa, masa di mana padi telah selesai dipanen dan para petani mulai menanam palawija.

“Mbak Sri yang ledhek tayub itu?” tanya bu lik.

“Iya. Aku ingin seperti dia. Sudah cantik, pandai menari dan nembang pula. Uangnya banyak karena sawerannya dari kalangan lurah, camat dan para pejabat. Kalau aku bisa seperti dia, tentu kita tidak akan hidup miskin lagi. Aku bisa membantu bu lik menyekolahkan Sarni, Erna, dan Karno.”

Nduk[7], terima kasih kau mau ikut memikirkan nasib sepupu-sepupumu. Tapi…” kata-kata Bu lik terhenti.

“Tapi apa bu lik?” tanyaku.

“Tapi kau masih terlalu kecil. Umurmu saja masih dua belas tahun.”

“Apa salahnya kalau aku masih kecil? Aku bisa menari sedikit-sedikit. Suaraku pun tidak jelek. Justru karena aku masih kecil, jadi aku bisa berlatih lebih lama.”

“Kenapa kau tidak ingin jadi dokter, guru, insinyur atau presiden sekalian?”

“Kalau jadi dokter, guru, presiden itu butuh sekolah bu lik, sedangkan aku sekolah saja tidak. Kalau jadi ledhek tidak perlu ijasah sekolah. Sing penting ayu, iso njoget lan nembang[8].”

“Apa kau benar-benar ingin jadi ledhek?” tanya bu lik

Aku mengangguk, mantap dengan pendirianku. Bu lik hanya tersenyum sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Siang itu begitu terik. Dami yang kering cepat dilahap api. Daun-daun gugur tertiup angin kemarau yang kering.

***

Esok harinya, pagi-pagi sekali bu lik membangunkanku. Aku digandengnya ke rumah seorang laki-laki sepuh yang terletak di ujung selatan desa. Ternyata dia adalah pimpinan paguyuban tayub desa Ngrajek. Rumahnya cukup besar, tentunya lebih bagus daripada rumah bu lik. Aku dikenalkan bu lik pada lelaki tua yang bernama Pardi itu. Bu lik mengutarakan keinginanku menjadi ledhek. Pak Pardi melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia menyuruhku memutar badan pelan-pelan. Agaknya dia sedang mengecek postur tubuhku. Setelah beberapa lama dia tersenyum lebar.

Akhirnya aku diterima menjadi calon ledhek oleh pak Pardi. Dia menyuruhku datang setiap sore sepulang dari sawah, agar aku bisa belajar menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi ledhek. Untuk biaya dan segala macam ubarampe selama aku latihan akan ditangguhkan setelah aku menjadi ledhek kelak. Pak Pardi paham bahwa bu lik tidak punya cukup uang untuk membiayai latihan-latihanku selama menjadi calon ledhek.

Aku begitu bahagia karena telah menjadi calon ledhek. Aku akan giat berlatih menari dan menyanyi agar bisa menjadi ledhek primadona. Setiap sore aku datang ke rumah pak Pardi. Di sana aku bertemu dengan ledhek-ledhek Ngrajek yang selalu kukagumi. Mereka juga sedang berlatih untuk pementasan selanjutnya.

Setelah 5 bulan berlatih, pak Pardi mengatakan bahwa aku memiliki bakat menjadi ledhek. Suaraku merdu dan tarianku pun semakin gemulai. Sejak itu aku selalu diikutsertakan dalam pementasan tayub. Aku menjadi ledhek cilik yang digandrungi penonton. Meski aku telah ikut dalam pementasan tayub, namun aku belum resmi menjadi ledhek. Aku masih harus menjalani satu prosesi lagi agar benar-benar dinobatkan menjadi ledhek Ngrajek. Prosesi itu dinamakan gembayangan atau yang sering disebut wisuda waranggono.

Barulah saat usiaku 18 tahun, pak Pardi mengadakan prosesi itu untukku. Di hari Jum’at Pahing bulan Besar pada penanggalan Jawa prosesi penobatanku dilaksanakan. Tahap pertama dinamakan amek tirto yaitu mengambil air suci di Air Terjun Sedudo yang terletak kurang lebih 30 kilometer arah selatan Ngrajek. Pada tahap ini, aku harus mampu menari 10 gending tarian. Aku dibawa menemui juru kunci Sedudo untuk menyerahkan sesajen dan meminta restu.

Setelah itu, aku harus menari di dalam air terjun sebagai tanda penghormatan, kemudian barulah melalui perantara juru kunci, pengambilan air suci dilakukan. Air suci itu diserahkan kepada pak Pardi selaku sesepuh dan pemimpin paguyuban tayub Ngrajek. Pak Pardi memercikkan air suci itu ke kepalaku. Sejak itulah aku resmi menjadi seorang ledhek. Aku lega dan senang. Akhirnya impianku menjadi ledhek terwujud. Dalam hati aku bersyukur prosesi penobatan ledhek tidak seperti prosesi bukak klambu bagi ronggeng.

Kini, akulah primadona tayub Ngrajek. Penonton selalu merindukanku. Mereka memuja dan mengagumiku. Banyak lelaki yang tergila-gila karena kecantikanku. Tidak ketinggalan, para ibu pun memintaku menyium putra putrinya. Sudah lima tahun aku jalani profesi sebagai seorang ledhek Ngrajek. Dari penghasilanku, bu lik dan anak-anaknya mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Aku pun semakin menikmati kesuksesanku.

Namun, roda kehidupan tak selalu di atas. Adakalanya harus di bawah. Tiap tahun usiaku semakin bertambah. Penonton pun semakin terlihat bosan denganku. Hadirnya ledhek-ledhek baru pun menjadi penghambat pesonaku. Kecantikan dan kepiawaianku yang alami tak lagi mampu menggaet perhatian penonton. Aku begitu cemas. Aku tak ingin semua kesuksesan ini sirna. Aku harus selalu menjadi primadona. Tidak boleh ada satu orang pun yang menandingi kecantikan dan kepiawaianku sebagai ledhek Ngrajek. Bisikan-bisikan syetan itu merasuk. Aku begitu terbuai dengan rayuan syetan yang menggoda. Kesuksesan dan ketenaran telah membuatku lupa diri. Aku akan menghalalkan segala cara agar aku tetap bisa menjadi primadona tayub. Kuputuskan untuk memasang susuk di beberapa bagian tubuhku.

Aku berhasil mendapatkan perhatian penonton kembali. Dengan susuk di beberapa bagian tubuhku, aku terus memukau para penonton. Saweran pun semakin bertambah. Namun, itu tidak membuatku puas. Aku ingin lebih dan lebih. Sekali aku terjerumus oleh bisikan syetan, maka seterusnya aku menjadi budak syetan.

***

Senja ini, saksi bisu penyesalanku. Kini, aku harus menanggung akibat dari semua perbuatanku. Bu lik, Sarni, Erna dan Karno tak lagi menemaniku. Mereka aku jadikan tumbal bagi kesuksesanku. Aku benar-benar telah gelap mata. Dan kini aku menyesali semua itu. Rumah megah ini sepi. Tak lagi ada tawa riang Erna dan Karno menghiasi sudut-sudut bangunan yang kubangun dengan kerja kerasku sebagai ledhek Ngrajek. Siang dan malam aku dihantui rasa bersalah. Seakan-akan arwah bu lik dan sepupu-sepupuku masih bergentayangan meminta pertanggungjawabanku. Oh bu lik, maafkan aku yang tak tahu membalas budi. Kesuksesan dan kekayaan telah membutakan mata hatiku, hingga aku tega mengorbankan orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupanku.

Senja ini, senja terakhir bagiku. Kutatap cahaya bundar keemasan di ufuk barat. Cahayanya tak lagi mampu mencerahkan hatiku yang hampa ini. Kicau burung-burung yang terbang tak lagi mampu menghibur gundahku. Penyesalan memang selalu terjadi di akhir cerita. Dadaku begitu sesak. Air bening tak mau berhenti membasahi pipiku.

Senja mulai pergi. Cahaya keemasan itu pun sirna, digantikan warna hitam gelap pertanda datangnya sang malam. Kutatap sejenak gelas yang sedari tadi kupegang. Gelas itu penuh berisi cairan. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya kuputuskan menenggak habis cairan gelas itu. Tak berapa lama aku merasakan kepalaku pusing hebat, tubuhku menggigil, dan busa keluar dari mulutku. Aku ambruk, menjemput malaikat maut.

– SELESAI –


[1] Sebutan untuk bibi (adik ibu)

[2] Makanan yang terbuat dari gaplek (singkong yang dikeringkan)

[3] Menanam padi

[4] Ledhek = sebutan untuk penari tayub

[5] Menyanyi

[6] Batang padi. Biasanya setelah panen, dami kering yang tertinggal di sawah dibakar.

[7] Panggilan untuk anak perempuan (bahasa Jawa)

[8] Yang penting cantik, bisa menari dan menyanyi