Oleh : Ninna Zahrana

 

Kang, hidup di kota metropolitan memang tidak semudah menghirup udara pagi yang menyejukkan. Kita harus bergelut dengan rasa takut dan gengsi demi bertahan hidup. Belum lagi sikap orang-orang kota yang acuh, tidak peduli satu sama lain, sibuk dengan urusannya masing-masing. Deretan mobil-mobil pribadi bagaikan ular super panjang yang tak pernah putus sepanjang jalan. Asap yang mengepul dari knalpot metromini menambah polusi. Gedung-gedung megah berdiri kokoh dengan angkuhnya, seakan mengejek perkampungan kumuh di sekelilingnya. Ah.. apa enaknya hidup di kota.

Kang, aku sering bertanya-tanya mengapa dulu kita pindah ke kota ini. Kita meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota. Masihkah kau ingat jernihnya kali dan sawah yang hijau subur menambah indahnya panorama desa kita. Malam berkalung ribuan berlian di langit membuatku ribuan kali ucapkan syukur pada Penciptanya. Pernah suatu malam kau berjanji akan memetikkan satu di antara ribuan berlian itu untukku. Namun, janji itu tinggalah janji sebab kini sulit bagi kita untuk menikmati keindahan berlian-berlian itu. Mereka sembunyi karena gemerlap lampu-lampu kota telah mengalahkan cahayanya.

Kau boyong aku ke kota ketika umur pernikahan kita baru seminggu. Tergiur rayuan orang tentang kehidupan kota yang menjanjikan membuat kita tidak lagi betah hidup di desa yang serba sulit. Maka, aku pun dengan setia ikut denganmu walau kutahu kau tak punya rencana matang tentang nasib kita di kota nanti. Kita telah terbuai iming-iming semu. Kini kutahu hidup di kota lebih sulit dari yang dibayangkan.

Apa yang bisa ditawarkan oleh orang udik yang hanya lulus SMP? Pengalaman tak punya, apalagi keahlian. Itulah yang terpikir pertama kali menginjakkan kaki di kota. Namun, kau tak pernah menyerah begitu saja. Setiap hari kau berusaha mencari pekerjaan, walaupun akhirnya hanya lelah yang kau dapat. Selama beberapa minggu hidup kita ditanggung oleh tabungan. Ketika tabungan itu hampir tak tersisa, kau memutuskan untuk bekerja serabutan. Walau dengan penghasilan kecil dan tidak menentu, yang terpenting cukup untuk makan.

Rumah kontrakan sempit ini menjadi saksi bahtera rumah tangga kita. Di sinilah terekam kebahagiaan dan kesedihan kita. Ya, kesedihan karena tidak berhasil mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Hidup pas-pasan, perut pun kadang harus puasa. Tetapi semua itu tak membuatku bersedih. Selama kau berada di sisiku maka aku akan merasa bahagia.

Dua tahun pernikahan kita, Ratih, putri pertama kita lahir. Aku masih ingat raut kebahagiaan yang terpancar di wajahmu waktu itu. Putri kita mungil dan lucu. Ia memiliki mata indah sepertimu dan katamu hidungnya adalah jelmaan hidungku. Saat itu, tak terpikir oleh kita, dengan bertambahnya anggota keluarga, maka akan bertambah pula biaya hidupnya.

Tahun ke delapan pernikahan kita…

Ratih telah berumur enam tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat walaupun perawakannya kurus dan terlihat tak terurus. Tahukah kau, Kang. Berkali-kali ia bertanya padaku kapan ia bisa sekolah. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain, belajar membaca, menulis, berhitung dan lain-lain. Ia bercerita tentang temannya, Lastri, yang sudah bisa membaca rangkaian huruf yang terpampang pada papan kayu di depan Kantor Kecamatan. Betapa ia bersemangat untuk bisa sekolah. Namun aku hanya bisa mengusap rambutnya dan menghiburnya dengan kata-kata manis pengharapan. “Sabar ya, nak.”

Kang, aku tahu bila mengandalkan penghasilanmu saja, tentu tidak akan cukup membiayai sekolah Ratih. Untuk makan sehari-hari saja kita sudah cukup kesulitan, apalagi bila nanti ditambah dengan biaya sekolah.

Tapi sejak saat itu, kau semakin giat bekerja. Berangkat pagi-pagi buta, pulang malam. Tak ada lagi waktu senggang untuk kita berkumpul dan bercanda. Sebelum tidur kau sempatkan menengok Ratih yang telah terlelap. Kau selimuti dia lalu kau kecup keningnya, seakan-akan sirna segala penatmu hanya dengan melihat wajah mungilnya.

Setelah kerja kerasmu, akhirnya tabungan kita cukup untuk memasukkan Ratih ke Sekolah Dasar. Betapa gembiranya Ratih ketika ia mengenakan seragam barunya. Merah putih. Warna bendera negara kita. Lengkap dengan dasi dan topinya.

Tiga tahun berlalu…

Hari itu masih pagi. Mentari masih enggan keluar dari singgasana megahnya.

Kang, SPP Ratih sudah telat lima bulan.” Aku memulai pembicaraan sekedar mengingatkanmu akan tunggakan SPP Ratih.

“Iya, Bu. Aku tahu itu. Semoga hari ini banyak orang di pasar yang menggunakan tenagaku. Jadi kita bisa mendapat cukup uang untuk melunasi SPP Ratih.” jawabmu.

“Amin. Semoga Allah melimpahkan rizkiNya pada kita hari ini.” kataku penuh pengharapan.

Akang janji hari ini akan membawa uang agar Ratih tidak dikeluarkan dari sekolah.”

Aku hanya bisa tersenyum mengantarkan kepergianmu. Semoga Allah selalu menyertai-Mu, Kang. Kaulah suami yang terbaik. Suamiku tercinta.

 

Adzan berkumandang dari mushola dekat rumah kontrakan kita, tanda telah masuk waktu ‘Isya. Namun, aku masih termangu di ambang pintu menunggu kedatanganmu. Mengapa kau tak kunjung pulang, Kang? Pertanyaan itu berkali-kali kuucap dalam batinku. Rasa khawatir hinggap di hatiku. Aku berjalan mondar-mandir di depan teras. Cemas.

Satu jam berlalu sejak adzan yang merdu menyeru umat untuk menghadap Tuhannya. Ya, sholat. Itulah jawaban untuk keresahanku. Akhirnya kuputuskan untuk mengadukan segala gundah kepada Tuhanku. Lekas kuambil air wudhu. Lalu kuhadapkan diri ini padaNya. Memohon keselamatan atas akangku tersayang.

Setelah bercengkrama dengan Sang Maha Cinta, hatiku tenang kembali. Ku tengok sebentar ke kamar Ratih. Kulihat ia sudah pulas tertidur. Kurapikan letak selimutnya. Lalu kuusap rambutnya. Bocah kecil ini harus hidup menderita, bahkan terancam putus sekolah. Tak dapat kubendung lagi air bening yang memaksa keluar dari mataku. Akhirnya, kutinggalkan Ratih sendiri menikmati mimpi indahnya. Mimpi indah yang akan hilang saat dia terbangun nanti.

Aku lanjutkan penantianku. Duduk di kursi kayu yang menghiasi teras rumah kontrakan kita. Malam semakin larut. Masih juga tak nampak sosokmu. Ada firasat aneh yang menyelinap membuat hati ini semakin tak tenang. Astaghfirullah… Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. “Allah, selamatkanlah suamiku.” Bisikku pada hati yang gelisah ini. Do’aku tak henti kulantunkan untukmu, Kang.

Kucoba menahan kantuk yang mulai menggoda mata ini untuk menutup kelopaknya. Lampu 5 watt menemani penantianku ini walau dengan cahayanya yang redup. Saat mata ini hampir tak bisa kutahan lagi, terlihat samar sosok yang berjalan mendekat dengan tergesa. Semakin lama semakin dekat, menuju ke arahku duduk. Dalam hati aku mengira itu adalah sosokmu, Kang, orang yang sejak tadi kunanti. Perasaan lega dan bahagia sesaat hinggap di hati. Namun, saat lampu 5 watt menyinari sosok itu, kecewalah hatiku karena ia bukanlah dirimu. Laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah pak RT itu datang dengan wajah penuh gelisah. Nafasnya tersengal sehabis berjalan tergesa-gesa.

“Ada apa pak RT datang malam-malam begini ke rumah saya?” tanyaku segera. Ada rasa khawatir yang merasuk. Khawatir ada kabar buruk, terutama kabar tentangmu.

Sesaat kubiarkan pak RT mengatur nafasnya.

“Su.. suamimu…” katanya masih tersengal.

“Ada apa dengan suami saya pak RT?” khawatir semakin membuncah di hatiku.

“Su.. suamimu… kecelakaan tadi sore. Ia ter… tertabrak truk. Saksi mengatakan ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.” Jelas pak RT dengan terbata-bata.

Petir menyambar hati ini. Oh, betapa aku tak kuasa lagi menopang tubuhku saat itu. Kurasakan dunia tak lagi nampak di mataku. Semuanya kosong. Lalu gelap.

Saat kubuka mataku, telah ramai orang mendatangi rumah kontrakan sempit ini, Kang. Kepalaku benar-benar terasa pusing. “Ada apa ini? Mengapa banyak orang di sini?” batinku. Seorang ibu memelukku sambil menangis. “Sabar ya.” Itulah yang dia ucapkan. Saat itu aku ingat, Kang. Aku ingat berita itu. Kau tak akan pernah lagi pulang membawa senyuman untukku dan Ratih. Kau pulang untuk terakhir kalinya dalam keadaan kaku terbungkus kain kafan. Sesak dada ini, melihatmu datang tanpa senyuman menghiasi wajahmu.

Kupeluk Ratih yang menangis. “Bu, bapak kenapa? Kok Ratih panggil-panggil tidak menjawab?” Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Oh Tuhan, ia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan ini.

Orang-orang di sekelilingku berusaha menghibur dan menenangkanku. Dalam hati kuberkata, ”Aku tak sanggup, Kang. Mengapa kau tega meninggalkanku?”

Saat tiba waktunya kau dibawa pergi, aku masih sangat berat untuk melepasmu. Tapi akhirnya kupasrahkan semuanya pada Sang Pemilik Semesta. Dialah yang lebih berhak atasmu. Kulihat kereta beroda manusia membawamu menuju rumah yang sebenarnya. Rumahmu kini bukan rumah kontrakan lagi. Ialah rumah Tuhan Yang Maha Agung.

Selamat jalan, Kang. Semoga kau tenang di sisiNya.

Sehari setelah pemakamanmu, seorang laki-laki paruh baya mendatangi rumah kita, Kang. Ia membawa sejumlah uang dan menyerahkannya padaku. Orang itu berkata uang ini ditemukan di saku celanamu saat kau tertabrak. Dua ratus ribu rupiah. Oh, akangku tersayang, kau tepati janjimu. Kau telah dapatkan uang untuk membayar SPP Ratih. Entah bagaimana susahnya kau dapatkan uang ini. Aku yakin kau telah bekerja keras. Tetapi, mengapa hanya uang ini yang kembali, sedangkan kau tak akan pernah pulang lagi. Apalah arti uang ini jika harus kehilanganmu, Kang.

Beberapa hari aku dan Ratih hidup dari belas kasihan tetangga. Aku bersyukur di kota yang penuh sesak ini masih ada orang yang mau peduli pada sesamanya. Namun akhirnya, aku mulai menata kembali hidupku. Aku tak mau berlarut-larut meratapi kepergianmu. Apalagi aku masih punya Ratih. Dialah obat bagi kesedihanku. Aku akan menjaga dan membesarkannya sepenuh hati. Aku pun akan berusaha agar ia bisa terus bersekolah. Ia harus menjadi orang yang sukses supaya tak lagi ada air bening yang menetes dari mata indahnya. Mata indah yang selalu mengingatkanku akan dirimu.

Kang, setahun terakhir ini, aku dan Ratih hidup dari penghasilanku menjahit. Nafkah terakhirmu itu setelah dipotong SPP Ratih, sisanya ditambah pinjaman tetangga, kugunakan untuk membeli mesin jahit. Untungnya dulu di desa aku pernah belajar menjahit pada Bu Susanti, guru Tata Busana di SMP. Alhamdulillah, hasilnya cukup untuk hidup kami berdua. Kau tak usah risau lagi, Kang. Kami baik-baik saja di sini. Kuyakin kau pun baik-baik saja di sana.

Akhirnya, kuakhiri surat ini teriring rasa rindu untukmu. Selalu untukmu, Kang.

 

Istri yang selalu merindukanmu

 

Lasmi melipat lembaran kertas yang kini penuh dengan tulisan tangannya. Beberapa di antaranya basah oleh tetesan air bening yang membuat beberapa huruf sulit dibaca. Dimasukkannya surat itu ke dalam amplop yang telah berperangko. Sejenak Ia menatap amplop yang kini telah gemuk berisi beberapa lembar kertas. Bingung. Apa yang harus ia tulis di bagian alamat tujuan. Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia tuliskan beberapa kata di situ.

Kepada :

Akang

di Taman Surga