Aku masih ingat betul betapa indahnya kampung kita. Dulu. Dulu, saat asap dan abu itu belum mengepul dan menghujani kampung ini. Saat api dan cairan panas itu belum muntah dari perut Merapi. Gunung kebanggaan kita. Gunung yang kini hanya menyisakan serpihan pilu. Sejak meletus dua tahun silam, tak ada lagi yang tersisa dari keindahan alamnya. Sawah-sawah yang dulu hijau berubah menjadi tanah yang gosong. Pohon-pohon di hutan lindung itu pun hanya tinggal batang pohon yang hitam dikelilingi abu. Abu daun-daun, abu rumah-rumah, abu manusia-manusia.

Tunggul Arum, nama kampung kita. Letaknya di desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Berada di kawasan barat lereng Merapi membuat keindahan panoramanya tak perlu diragukan lagi. Aneka flora dan fauna tumbuh makmur di sana, ditambah tempat-tempat sakral seperti : Gua Semar, Kedung Cuwo, Sendang Pancuran, Pring Wali, dan Batu Tunggang membuat siapapun akan betah berada di sini. Di kampung kita.

Aku pun masih ingat betul, saat pertama aku melihatmu. Bocah laki-laki yang kutemui saat Merti Bumi. Ya, Tunggul Arum selalu melaksanakan tradisi ini. Romoku berkata tradisi ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan nikmatNya kepada masyarakat dusun. Sesuai namanya, Merti Bumi berarti memetri (memelihara) Bumi (tanah), menjaga dan melestarikan dengan sebaik mungkin. Tradisi ini dilakukan setiap bulan Sapar penanggalan Jawa. upacara bersih dusun yang merupakan tradisi warisan leluhur dari waktu ke waktu. Telah bertahun-tahun, Romo dipercaya memimpin prosesi adatnya.

Tradisi Merti Bumi diawali pengambilan air suci dari empat sumber yaitu dari padukuhan Tunggul Arum, padukuhan Manggungsari, padukuhan Kembang dan padukuhan Dadapan. Air suci itu kemudian dibawa ke Balai Desa Wonokerto dan dibawa keliling desa dengan gunungan salak dan tumpeng menuju lapangan Tunggul Arum. Aku tak pernah ketinggalan mengikuti iring-iringan gunungan dan tumpeng itu. Orang-orang desa membawa pula hasil bumi seperti sayur dan buah. Iringan musik gamelan semakin menambah suka cita. Sampai di lapangan, gunungan dan tumpeng serta hasil bumi lainnya akan didoakan. Romo pun memimpin kenduri itu. Setelah selesai didoakan, saat yang kutunggu-tunggu pun tiba. Gunungan salak dan hasil bumi serta tumpeng itu diperebutkan masyarakat dusun demi mengharap berkah. Lapangan Tunggul Arum mendadak riuh oleh teriakan orang-orang. Dengan tubuhku yang kecil ini, membuatku mudah menelusup di antara tubuh orang-orang yang berdesak-desakan itu. Aku berhasil mendapatkan 3 buah salak. Akan kumakan bersama Romo nanti.

Lagi-lagi aku masih ingat betul, saat berjalan pulang membawa 3 buah salak, tampak seorang bocah laki-laki menghampiriku. Ia membawa beberapa ikat sayur dan memberikannya kepadaku. Merasa tak kenal, aku menolaknya. Namun, bocah itu memaksa. “Ambilah dan masakkan untukku!” Ia lantas pergi tanpa mengucapkan nama agar aku mengenalnya. Itulah pertama kali aku melihatmu.

Hari berikutnya, aku datang ke lapangan ini membawa nasi dan sayur yang telah kumasak. Aku memang gadis cilik, tapi aku sudah memasak untuk Romo sejak ibu meninggal saat usiaku 6 tahun. Aku menunggu hingga senja, namun tak tampak sosok dirimu hadir disini. Aku pun pulang membawa nasi dan sayur yang telah dingin. Esok harinya, aku datang lagi ke tempat ini. Nihil. Hingga di hari ketiga, kau datang dengan hiasan senyum di wajahmu. Nasi dan sayur yang kubawa kau makan dengan lahap. “Kowe pinter masak.” Kata-kata itu terucap setelah suapan yang terakhir. Usai makan barulah kita saling bicara. Dan saat itulah kutahu namamu Aryo.

Lapangan Tunggul Arum ini tersisa serpihan kenangan saat bersamamu. Disanalah aku biasa menemanimu menggembala kerbau. Dari pohon jambu di pinggir lapangan itu kita mengawasi kerbau-kerbau melahap rumput yang tumbuh hijau. Sambil menikmati buah jambu yang merah ranum, canda tawa kita membahana mengisi kesunyian di hari yang panas musim kemarau. Anak-anak di desa ini memang sudah dari kecil menggembala kerbau. Apalagi hiburan bagi kami selain kerbau-kerbau itu.  Sebagai bocah gunung yang tidak mengenyam pendidikan lebih dari sekolah dasar, kerbau menjadi lahan pekerjaan setelah lulus. Kerbau adalah aset berharga bagi keluarga petani. Walau kini jaman sudah mengubah kerbau menjadi traktor, tetapi petani-petani di desa ini masih mempertahankan tandur tradisional. Bagi mereka, penting untuk bisa nguri-uri warisan yang sudah turun temurun mengikat mereka. Memang ada beberapa yang telah mengikuti jaman, namun itu bisa dihitung dengan jari.

Hampir delapan tahun sejak itu. Dan masih aku ingat betul, sejak senja di tanggal 11 bulan ke 3, aku tak lagi melihat sosokmu. Hari itu, terakhir kalinya kita menggembala bersama. Tanpa ucapan pamit, kau tinggalkan aku sendiri. Pohon jambu ini pun tampak layu tanpa kehadiranmu. Tanah lapang ini begitu sunyi tanpa gelak tawamu yang selalu membuatku bahagia. Hanya satu kalimat yang kau ucapkan saat kita berpisah di ujung jalan itu. “Sri, aku akan pergi ikut Romoku ke kota.” Tak sepatah katapun aku ucapkan. Tubuhku mendadak kaku. Aku masih berdiri mematung, saat kau balikkan tubuhmu pergi ke arah rumahmu di ujung timur desa ini. Hari itu aku memang hanya bocah cilik yang tak mengerti arti cinta, namun saat itu aku merasa begitu kehilangan sosok lelaki yang kuimpikan kelak menjadi suamiku.

Ya, delapan tahun telah berlalu sejak itu. Tak ada surat tak ada kabar darimu. Yang kutahu dari simbahmu, kau melanjutkan pendidikan di kota. Memang masih aku ingat betul, kau pernah berkata, “Aku ingin jadi insinyur, Sri. Jadi, maukah kau menungguku?” Apa mimpimu itu yang membuatmu meninggalkanku seperti ini? Aku masih terus menunggu, hingga datang seseorang meminangku. Namun bukan dirimu. Dia laki-laki yang juga kukenal sejak usiaku 15 tahun. Namun tak seperti kukenal dirimu dengan segala kesahajaanmu.

Romo adalah seorang abdi ndalem Keraton Yogyakarta. Ia selalu patuh dan setia pada hukum tradisi yang selama ini masih dilestarikan baik di lingkungan Keraton maupun di Tunggul Arum. Tugasnya adalah melayani menantu Sri Sultan, Kanjeng Surodiningrat. Aku sering diajak Romo ke kediamannya. Keraton berbeda dengan Tunggul Arum. Di sana segala sesuatu begitu teratur, tertib, dan bersih. Hanya satu yang tak kusuka dari tempat itu. Sunyi. Strata dan kasta begitu mencolok. Tak seperti Tunggul Arum yang selalu ramai dengan gelak tawa bocah-bocah gunung yang asyik duduk di punggung kerbau mereka. Tak ada strata ataupun kasta yang membedakan.

Namun, aku bersyukur Kanjeng Surodiningrat bersikap baik kepada abdi-abdinya. Lebih-lebih pada Romo. Karena kebaikan hati Kanjeng Surodiningrat, aku bisa terus bersekolah. Romo pernah bercerita tentang niat baik Kanjeng Surodiningrat membiayai pendidikanku.

Anakmu si Sri kae ayu tenan. Bocahe uga pinter. Eman-eman nek upamane mung ana ndusun. Adoh kawruh, adoh srawung.”[1]

Kados pundi malih, Ndara. Dalem niki namung abdi. Mboten gadah kuwaos napa-napa. Sri punika lare manut. Nrima punapa kahananipun tiyang sepuh.”[2]

Mendengar jawaban Romo, agaknya Kanjeng Surodiningrat semakin mantap membebaskanku dari kebodohan. Aku dan Romo berhutang banyak pada keluarga menantu Sultan itu. Seandainya ada batangan emas sebesar Merapi, itupun tak cukup untuk membalas kebaikannya.

Suatu malam Romo memanggilku duduk berbincang di teras rumah. Setelah perbincangan ringan, Romo mengatakan sesuatu dengan wajah berubah serius, “Nduk, Romo iki abdi ndalem. Romo terikat dengan dawuhe Kanjeng Surodiningrat. Jadi, Romo mohon kamu bisa mempertimbangkan posisi Romo. Kita ini hanyalah wong cilik yang hidupnya tergantung dening kuwasane Pandita Ratu. Jadi, tolong pikirkan matang-matang tentang niat baik Raden Joko Surodiningrat meminangmu.”

Usai perbincangan malam itu, aku hanya berdiam diri di kamar. Kamar ini terasa pengap seakan tak cukup lagi udara untukku bernafas. Entah berapa tetes butiran air bening membasahi kainku. Apa yang semestinya kulakukan? Dan lagi-lagi kau tak di sisiku.

Ya, Raden Joko Surodiningratlah yang telah meminangku. Namun hingga kini aku belum menemukan jawaban mengapa ia meminang gadis desa yang miskin sepertiku? Mengapa pula Kanjeng Surodiningrat mau menyetujui? Walaupun kini statusku sarjana, tapi bukankah aku masih berdarah rakyat jelata? Aku bisa sarjana itupun karena belas kasihan Kanjeng Surodiningrat. Aku benar-benar tidak mengerti semua ini. Adakah ketulusan dari rencana ini?

Aku tentu masih ingat betul, Suatu pagi di hari Minggu, Romo mengajakku berkunjung ke Keraton. Seperti biasa, sementara Romo melaksanakan tugasnya, aku diperbolehkan berjalan-jalan menikmati keindahan Keraton. Saat berjalan menyusuri komplek Kasatrian, tampak olehku seorang anak laki-laki duduk di tepi kolam. Pakaiannya bagus, batik halus berwarna cerah. Pikirku pastilah ia anak seorang bangsawan. Langkah kakiku tak berhenti, terus berjalan walau mataku sejak tadi telah berhenti pada sosok yang diam itu. Wajahnya terlihat murung. Kuhentikan langkahku. Sejenak berpikir, dan kulangkahkan lagi kedua kakiku. Namun, tak lagi ke arah tujuan semula. Langkah kakiku menuju sosok yang muram itu. Agaknya, sosok yang kuhampiri itu menyadari kedatanganku. Langkahku kembali terhenti saat sepasang mata yang jernih itu menatapku. Sesungging senyum menyambutku. Sepertinya ia senang dengan kedatanganku. Ia tak menganggapku orang asing walaupun kenyataannya memang begitu. Aku kembali melangkahkan kakiku mendekatinya. Lalu duduk di sampingnya. Memandang ke arah kolam berwarna keemasan tertimpa matahari pagi yang hangat. Perbincangan dimulai. Dan barulah kutahu, ia putra Kanjeng Surodiningrat.

Walaupun terpaut umur 6 tahun, persahabatanku dengan Raden Joko Surodiningrat cukup erat. Kata Romo, Raden Joko selalu menanyakan kapan kedatanganku ke keraton lagi. Setiap kedatanganku ia sambut dengan gembira. Ia selalu senang menyimak cerita-ceritaku tentang Tunggul Arum. Kuceritakan pula tentang dirimu. Pertemuan dan Kepergianmu.

Dan kini, aku harus menghadapi pilihan yang sulit. Cinta dan balas budi. Mana yang harus kupilih? Sampai detik ini, aku terus menunggumu. Menunggu teman sekaligus kekasih hati yang lama menghilang. Tapi sampai kapan? Saat kusadari itu hanya akan sia-sia, maka tlah aku putuskan jawabanku. Kupilih balas budi.

Lalu, apa yang aku dapat? Kemewahan? Kekuasaan? Kebahagiaan? Semua itu omong kosong. Persahabatan menjadi cinta terbukti tak selamanya sejati. Raden Joko yang kini suamiku, tak lagi pernah menyentuhku. Tak lagi sempat bersama menikmati hangatnya mentari pagi di tepi kolam. Ia terlalu sibuk dengan kekuasaan dan bermewah-mewah. Aku hanyalah pemuas nafsu saja. Terkadang aku layaknya pajangan dinding yang tak dihiraukan. Saat itulah baru kusadari, bangsawan dan jelata tak bisa benar-benar dileburkan.

Saat-saat kesendirianku. Berteman kesunyian. Terbayang pancaran wajahmu menyunggingkan senyum. Senyum yang sama seperti saat pertama takdir Tuhan mempertemukan kita. Senyum yang selama lebih dari 20 tahun ini aku rindukan. Senyum dari sosok yang sampai detik ini tak kutemukan bayangannya.

Tahukah kau, hingga kini aku masih menunggumu. Biarlah pilihan hidupku salah, asalkan pilihan hatiku selalu benar. Aku memilihmu untuk mengisi relung hatiku. Entah kau tahu atau tidak. Entah kau akan kembali atau tidak. Aku akan terus menunggu. Hingga senja yang menutup usia.


[1] Anakmu si Sri sangat cantik. Pintar pula. Sayang kalau hanya tinggal di dusun. Jauh ilmu, jauh pergaulan.

[2] Mau bagaimana lagi, tuanku. Saya ini hanyalah abdi (pelayan). Tidak punya kekuasaan (harta). Sri itu anak penurut. Menerima apapun keadaan orang tuanya.