Cerpen ini terpilih sebagai juara II Lomba Cipta Cerpen PORSEMA STAIN Purwokerto.

Malam itu tak berhias bintang. Namun, kau tetap menatap langit. Duduk memeluk lutut demi menepis nafas dingin sang dewi angin. Entah apa yang kau lihat di sela-sela gumpalan awan mendung itu. Bagiku, tak nampak apapun, tapi kau terlihat asyik memandangnya.

Di ujung jalan nampak beberapa orang berjaga di sebuah pos ronda. Mereka bercengkrama dan kukira sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Ah, andai kita bisa ikut menyeruputnya juga. Aku bahkan sudah lupa rasa kopi.

Jalan di depan kita telah lengang. Lampu-lampu jalan menyala redup. Tapi cukuplah untuk menerangi kita berdua. Lampu di emperan toko tempat kita duduk, mati. Mungkin putus. Namun kita telah terbiasa dengan gelap dan redup. Seperti itulah hidup kita selama ini. Kalau tidak gelap, ya redup. Tak pernah terang, apalagi benderang. Ah, tak guna lagi meratapi nasib. Ratapan tak akan mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Ratapan hanya akan membuat kita semakin terpuruk.

Mungkin tengah malam telah lewat. Kupandangi tubuh kurus di depanku. Bocah berumur 8 tahun itu masih menatap langit. Ia anakku.

Mak[1], kapan aku bisa sekolah?”

Jantungku seakan berhenti saat tiba-tiba kau ucapkan tanya itu. Telah berkali-kali kau tanyakan hal itu, namun sampai sekarang masih tak kutemukan jawabnya. Diam beberapa saat. Lalu kau menoleh padaku, mengharap sebuah kata meluncur dari bibir yang kering karena hari ini tak ada makanan yang membasahinya. Bibirku benar-benar kelu. Satu kata pun tak mampu kuucap. Aku merunduk menghindari tatapan mata penuh harap itu.

Helaan nafas panjang mengakhiri tatapanmu. Kau beranjak, menata lembaran kardus-kardus bekas, alas tidur kita. Lalu kau rebah, meringkuk menahan dingin karena tak berbalut selimut. Tak lama kau pun tertidur. Kuharap berjuta angan dan harapan yang bersemayam di benakmu itu menjelma menjadi mimpi indahmu malam ini.

Oh, anakku, maafkan emakmu yang tak mampu memberimu hidup yang layak. Selama ini kita hidup dari belas kasihan orang. Kadang harus rela tidak makan. Tidur di emperan toko. Siang kepanasan malam kedinginan sudah hal biasa bagi kita.

Aku menyadari, usia 8 tahun harusnya kau sudah bisa membaca, menulis, berhitung seperti anak lain sebayamu. Sering aku melihatmu memandangi bocah-bocah berseragam merah putih. Hatiku semakin perih. Mataku tak kuasa membendung air bening yang mengalir. Kutahu kau benar-benar ingin seperti mereka. Namun, nasib sial ini seakan tak mau pergi.

Suatu malam kau pernah berkata, “Mak, aku ingin menjadi menteri biar kita tidak kelaparan lagi. Biar emak bisa tidur di kasur yang empuk dan berselimut tebal, jadi tidak akan kedinginan lagi. Suatu hari, mak, aku yakin aku pasti meraihnya.” Harapan yang begitu menggebu kau katakan dengan penuh semangat. Maka aku hanya bisa mengamininya. Aku tak ingin menghancurkan impianmu itu.

Kadang aku berpikir mungkinkah anakku menjadi seorang menteri. Rasanya mustahil. Bagaimana mungkin menjadi menteri jika sekolah saja tidak. Bagaimana bisa sekolah jika untuk makan saja susah. Akhirnya itu hanyalah sebatas mimpi yang akan hilang saat terjaga. Mimpi yang entah akan terwujud atau hanya akan menjadi harapan kosong seorang bocah berusia 8 tahun. Kehendak Tuhanlah yang akan menjawabnya. Bukankah jika Tuhan menghendaki, segala yang mustahil akan menjadi nyata? Itulah yang dikatakan ustadz masjid yang terkadang memberi kita sedekah.

Telah lama kita mencoba bersabar. Namun itu sudah terlalu lama. Kesabaran sedikit demi sedikit digerogoti rasa putus asa yang akhirnya hanya ada kepasrahan. Kepasrahan pada nasib yang dilukiskan di telapak tangan kita.

Tidurlah, nak. Semoga mimpimu bisa menjelma nyata. Itulah bisikan hatiku sebelum ikut terlelap malam itu.

~

Mak, aku ditawari sekolah oleh ibu yang kutolong tadi siang.” Katamu di malam yang lain.

Alhamdulillah, nak. Memangnya siapa ibu yang berhati baik itu?”

“Aku juga belum tahu. Ia hanya memberikan alamat rumahnya bila sewaktu-waktu aku menerima tawarannya.”

“Tunggu apa lagi? Terima saja tawarannya. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan? Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang diberikan Tuhan padamu.”

“Tapi, mak…”

“Tapi apa?”

Hening beberapa saat. Aku menatap wajah anakku lekat-lekat. Di matanya kulihat keraguan. Mengapa tiba-tiba keraguan menyelimuti anakku. Anakku yang selalu semangat dan yakin dalam berbagai hal. Setelah hening yang membuat malam semakin senyap, kau pun melanjutkan kata-katamu.

“Ibu itu mensyaratkan aku menjadi anaknya barulah dia mau menyekolahkanku. Ibu itu bercerita bahwa telah lama dia dan suaminya menginginkan anak. Namun hingga di usia pernikahan mereka yang ke-20 belum juga dikaruniai anak.”

Oh, Tuhan. Mengapa harus ada syarat seperti itu. Syarat itu akan membuatku terpisah dari anakku. Tapi aku tak ingin anakku terus mengalami nasib sial ini. Dia harus menggapai mimpinya.

“Terimalah tawaran ibu yang baik hati itu, nak. Walaupun itu berarti kita akan berpisah. Tapi bukankah emak masih bisa menjengukmu? Emak janji akan sering menjengukmu.”

Senyum menghiasi wajah mungilmu. Pelukan hangat mengakhiri perbincangan kita malam itu.

~

Malam-malam selanjutnya aku lewatkan sendiri. Tak ada lagi bocah yang menatap ke langit. Air mataku berlinang saat kuingat wajah anakku. Setiap malam rindu selalu merasuk. Tapi aku harus menelan rasa rindu itu demi kebahagiaan dan masa depan anakku. Bocah 8 tahun dengan sejuta mimpi di benaknya. Aku hanya bisa berdoa semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti anakku.

Setiap minggu aku sempatkan menjenguknya. Anakku selalu menyambutku dengan wajah ceria. Ia akan menceritakan pengalaman-pengalaman barunya dengan begitu semangat. Bahagia rasanya melihatnya seriang itu.

Suatu hari di minggu kesepuluh aku kembali mendatangi rumah besar dan megah tempat anakku tinggal bersama orang tua angkatnya. Namun, tak seperti biasanya, rumah itu sepi. Tak nampak senyum ceria menyambutku. Senyum dari bocah yang selalu aku rindukan. Mengapa rumah ini begitu lengang. Aku berkali-kali memencet bel dan menunggu di depan gerbang yang terkunci. Cukup lama hingga akhirnya seorang perempuan keluar menghampiri gerbang.

“Maaf bu, di sini tidak melayani sumbangan.”

“Saya bukan mau minta sumbangan, mbak. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya yang tinggal di sini.”

“Sayang sekali bu, keluarga yang tinggal di sini sudah pindah ke Jakarta dua hari yang lalu. Rumah ini akan dijual.”

Duh Gusti, aku tak kuasa menopang tubuhku. Aku terduduk lemas. Tak sanggup berkata-kata. Air bening mengalir dari mata yang semakin cekung. Kini, mata ini tak bisa lagi melihat senyum bocah dengan sejuta mimpi di benaknya. Ya, bocah itu telah pergi jauh meninggalkanku. Tanpa ada kata perpisahan. Tak tahu kapan ia akan kembali.

Oh, Tuhan. Beginikah akhir kisah kami. Aku yang semakin renta ini harus kehilangan anakku. Sungguh, aku ingin menghabiskan akhir hidupku bersama anakku. Berlama-lama memandang wajahnya dan mendengar tawanya. Namun kini, wajah itu hanya bisa kukenang. Tawa itu tak bisa lagi kudengar. Aku tak tahu bagaimana akan kuhabiskan hari-hariku tanpa dirinya. Anakku tercinta.

~

Nak, ingatkah kau pada emakmu yang renta ini? Emak yang selalu merindukanmu di kala embun masih memeluk mentari. Kini, genap sepuluh tahun emak menunggumu di kota kecil ini. Kota tempat dulu kita bergelut dengan kesengsaraan. Ingatkah kau pada emperan toko tempat kita duduk menghabiskan malam sambil menatap ribuan berlian di langit. Di sanalah kau gantungkan sejuta impianmu. Lalu kita akan segera terlelap. Walau hanya beralas lembaran kardus bekas tanpa secuil selimut untuk menepis nafas dingin sang dewi angin. Membawa jutaan mimpi itu ke dalam tidur kita.

Nak, lupakah kau pada emakmu yang ringkih ini? Mengapa kau tak kunjung kembali. Doa emak selalu mengalir untukmu di tiap malam yang paling sunyi. Hanya untukmu, anakku. Semoga kau dapat meraih impian-impian yang tidak bisa emak berikan. Namun ingatlah, nak. Jika telah kau raih impian-impian itu, janganlah takabur dan kesombongan meracunimu. Aku tak ingin kau terjerumus pada kesengsaraan yang lebih dahsyat di kehidupan yang akan datang. Kehidupan di mana penyesalan tak berarti lagi.

Nak, sudah seperti apa kau sekarang? Ingin kutatap wajahmu. Ingin kudengar tawamu. Wajah yang hampir kulupa karena emakmu ini semakin renta. Kau pasti telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Pemuda tampan yang menjadi dambaan perempuan. Tapi bagiku kau tetap bocah mungilku. Bocah dengan sejuta impian yang selalu kurindu.


[1] Panggilan untuk ibu