*Cerpen Dewi Nina Sari

(Nominasi Lomba Cipta Cerpen OBSESI PRESS th.2011)

Senja mengakhiri bulan Februari. Aku termenung di ambang jendela. Kutatap langit senja yang keemasan di ufuk barat. Cahaya bundar itu mulai berangsur-angsur hilang ditelan bumi, lelah setelah bersinar seharian. Burung-burung terbang pulang ke sarang. Dari jendela kamarku ini, aku bisa melihat hamparan padi yang hijau bagaikan permadani. Kulihat sosok lelaki paruh baya memanggul cangkul dan menggendong tabung berisi obat pemberantas hama. Agaknya ia telah selesai dengan pekerjaannya hari ini. Padi-padi itu telah disemprotnya sehingga tak perlu khawatir lagi dengan hama-hama yang menghambat pertumbuhan dan kesuburan padi. Peluh di sekujur tubuh membuat kulit yang hitam legam itu berkilau, tanda kerja kerasnya hari ini. Hewan-hewan gembala digiring pulang ke kandang oleh penggembalanya. Kenyang sudah seharian menikmati rumput yang lezat. Induk ayam pun mulai berceloteh memanggil anak-anaknya agar segera masuk kandang. Tiba saatnya beristirahat menikmati malam yang panjang.

Aku selalu menyukai suasana senja. Senja begitu indah. Senja mengingatkan penghuni bumi untuk bersiap menyambut sang malam. Langit malam yang berkalung ribuan berlian. Namun, senja kali ini membuat dadaku terasa sesak hingga sulit kuhirup udara yang menari-nari di sekelilingku. Hembusan angin senja yang membelai mesra rambutku pun tak lagi terasa sejuk. Air bening tak henti mengalir membasahi pipiku. Hatiku meratap, menyumpahi penyesalanku.

Di saat seperti ini aku begitu merindukan ibu. Ibu yang selalu menggendongku ke pasar. Saat usiaku 6 tahun ibu masih mau menggendongku walau dengan kepayahan. Sering kali aku tertidur di punggungnya. Kurasakan begitu nyamannya punggung ibu yang mulai renta. Namun, kini aku tak pernah lagi menatap wajahnya, apalagi memeluk punggungnya. Aku hanya bisa memeluk gundukan tanah di area pemakaman yang terletak di sebelah selatan desa. Oh ibu, mengapa kau begitu cepat meninggalkanku. Mengapa kau pergi disaat aku masih membutuhkan kasih sayangmu.

Sejak kepergian ibu, aku diasuh oleh bu lik[1]. Suami bu lik minggat meninggalkan dirinya seorang diri mengasuh aku dan tiga anaknya. Hidup kami memang tidak bisa dikatakan mapan. Hidup di desa dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Bisa makan dengan tiwul[2] dan sambal saja sudah untung. Sering aku melihat bu lik begitu kelelahan sepulangnya tandur[3] di sawah juragan Gito. Ya, dia hanyalah seorang buruh tani. Penghasilannya yang kecil membuatku harus mengalah untuk tidak meneruskan sekolah. Aku meninggalkan bangku sekolah di kelas 5 SD. Aku sadar aku harus mengalah dengan sepupu-sepupuku. Sejak itu, aku ikut membantu pekerjaan bu lik di sawah.

Setiap pagi saat aku dan bu lik mulai berangkat ke sawah, aku selalu melihat anak-anak sebayaku memakai seragam, sepatu, dan tas yang bagus. Aku menghentikan langkahku, sejenak melihat mereka begitu riang berjalan menuju tempat mereka menimba ilmu. Saat itu kurasakan betapa aku ingin seperti mereka. Aku masih akan berdiri mematung kalau saja bu lik tidak berteriak memanggilku, menyuruhku segera menyusulnya. Kutinggalkan iringan anak-anak sekolah itu. Kutinggalkan pula impian-impianku.

Satu hal yang menjadi hiburanku adalah pentas tayub yang sering diadakan pada pesta pernikahan, syukuran atau hajat lainnya di desaku. Aku senang melihat ledhek-ledhek[4] yang cantik itu menari dan nembang[5]. Kutirukan setiap gerakan tarian mereka hingga lama-kelamaan aku hafal. Seringkali saat menonton, aku membayangkan dirikulah yang sedang menari disaksikan banyak warga desa. Goyangan lincah sang ledhek diiringi suara gamelan membentuk harmoni. Belum lagi daya tarik kecantikan yang dapat menyihir setiap penontonnya. Banyak orang mengatakan bahwa ledhek-ledhek itu memakai susuk untuk memikat penontonnya, terutama laki-laki. Hal ini tak lain agar mereka selalu dipuja dan laris sehingga mendapat saweran yang banyak. Entahlah, aku tak tahu pasti kebenarannya. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahaminya.

Desaku, desa Ngrajek, terletak di kecamatan Tanjung Anom, kabupaten Nganjuk memang masih melestarikan kesenian tayub sebagai hiburan rakyat. Bagi warga desaku, menjadi ledhek merupakan kebanggaan tersendiri. Selain kecantikan dan kepiawaiannya, ledhek juga dipercaya memiliki daya magis. Jadi tidak sembarang orang bisa menjadi ledhek. Konon, cium sayang sang ledhek dapat mendatangkan nasib mujur. Itulah sebabnya suatu hari seusai pentas tayub, bu lik membawaku menemui ledhek tercantik di paguyuban tayub itu. Saat itu, sudah satu minggu aku sakit panas. Bu lik meminta ledhek itu menyium pipiku kanan dan kiri, dengan harapan sakitku segera sembuh. Selain itu juga agar aku mewarisi kecantikan sang ledhek serta bernasib mujur.

Bu lik selalu mengizinkanku menonton pentas tayub asalkan tidak sampai larut malam. Agaknya bu lik memahami bahwa tayub adalah satu-satunya hiburanku agar aku bisa sejenak melupakan keinginanku untuk bersekolah seperti teman-teman sebayaku. Tayub memang membuatku melupakan impianku itu. Namun, tayub juga telah membuatku memiliki impian-impian yang lain. Impian-impian baru untuk menjadi seorang ledhek primadona di paguyuban tayub. Ya, suatu hari nanti, aku ingin seperti ledhek yang telah memberi kecupan mesra di pipiku.

Ledhek-ledhek Ngrajek terus menari. Hingga tiba saatnya sampur dikalungkan pada penonton laki-laki pilihan sang ledhek untuk diajak menari bersama. Saweran-saweran mulai memenuhi tangan sang ledhek. Bila sudah begitu, aku akan segera berlari pulang. Aku masih terlalu kecil untuk menonton adegan selanjutnya. Aku memang senang melihat ledhek-ledhek itu menari dan menyanyi. Namun aku tak suka jika tangan-tangan nakal penayub mulai merusak seni yang terkandung di dalamnya.

***

“Bu lik, aku ingin seperti mbak Sri.” Kataku suatu hari pada bu lik saat kami sedang membakar dami[6]. Saat itu bulan Juni sudah masuk mangsa kasa, masa di mana padi telah selesai dipanen dan para petani mulai menanam palawija.

“Mbak Sri yang ledhek tayub itu?” tanya bu lik.

“Iya. Aku ingin seperti dia. Sudah cantik, pandai menari dan nembang pula. Uangnya banyak karena sawerannya dari kalangan lurah, camat dan para pejabat. Kalau aku bisa seperti dia, tentu kita tidak akan hidup miskin lagi. Aku bisa membantu bu lik menyekolahkan Sarni, Erna, dan Karno.”

Nduk[7], terima kasih kau mau ikut memikirkan nasib sepupu-sepupumu. Tapi…” kata-kata Bu lik terhenti.

“Tapi apa bu lik?” tanyaku.

“Tapi kau masih terlalu kecil. Umurmu saja masih dua belas tahun.”

“Apa salahnya kalau aku masih kecil? Aku bisa menari sedikit-sedikit. Suaraku pun tidak jelek. Justru karena aku masih kecil, jadi aku bisa berlatih lebih lama.”

“Kenapa kau tidak ingin jadi dokter, guru, insinyur atau presiden sekalian?”

“Kalau jadi dokter, guru, presiden itu butuh sekolah bu lik, sedangkan aku sekolah saja tidak. Kalau jadi ledhek tidak perlu ijasah sekolah. Sing penting ayu, iso njoget lan nembang[8].”

“Apa kau benar-benar ingin jadi ledhek?” tanya bu lik

Aku mengangguk, mantap dengan pendirianku. Bu lik hanya tersenyum sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Siang itu begitu terik. Dami yang kering cepat dilahap api. Daun-daun gugur tertiup angin kemarau yang kering.

***

Esok harinya, pagi-pagi sekali bu lik membangunkanku. Aku digandengnya ke rumah seorang laki-laki sepuh yang terletak di ujung selatan desa. Ternyata dia adalah pimpinan paguyuban tayub desa Ngrajek. Rumahnya cukup besar, tentunya lebih bagus daripada rumah bu lik. Aku dikenalkan bu lik pada lelaki tua yang bernama Pardi itu. Bu lik mengutarakan keinginanku menjadi ledhek. Pak Pardi melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia menyuruhku memutar badan pelan-pelan. Agaknya dia sedang mengecek postur tubuhku. Setelah beberapa lama dia tersenyum lebar.

Akhirnya aku diterima menjadi calon ledhek oleh pak Pardi. Dia menyuruhku datang setiap sore sepulang dari sawah, agar aku bisa belajar menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi ledhek. Untuk biaya dan segala macam ubarampe selama aku latihan akan ditangguhkan setelah aku menjadi ledhek kelak. Pak Pardi paham bahwa bu lik tidak punya cukup uang untuk membiayai latihan-latihanku selama menjadi calon ledhek.

Aku begitu bahagia karena telah menjadi calon ledhek. Aku akan giat berlatih menari dan menyanyi agar bisa menjadi ledhek primadona. Setiap sore aku datang ke rumah pak Pardi. Di sana aku bertemu dengan ledhek-ledhek Ngrajek yang selalu kukagumi. Mereka juga sedang berlatih untuk pementasan selanjutnya.

Setelah 5 bulan berlatih, pak Pardi mengatakan bahwa aku memiliki bakat menjadi ledhek. Suaraku merdu dan tarianku pun semakin gemulai. Sejak itu aku selalu diikutsertakan dalam pementasan tayub. Aku menjadi ledhek cilik yang digandrungi penonton. Meski aku telah ikut dalam pementasan tayub, namun aku belum resmi menjadi ledhek. Aku masih harus menjalani satu prosesi lagi agar benar-benar dinobatkan menjadi ledhek Ngrajek. Prosesi itu dinamakan gembayangan atau yang sering disebut wisuda waranggono.

Barulah saat usiaku 18 tahun, pak Pardi mengadakan prosesi itu untukku. Di hari Jum’at Pahing bulan Besar pada penanggalan Jawa prosesi penobatanku dilaksanakan. Tahap pertama dinamakan amek tirto yaitu mengambil air suci di Air Terjun Sedudo yang terletak kurang lebih 30 kilometer arah selatan Ngrajek. Pada tahap ini, aku harus mampu menari 10 gending tarian. Aku dibawa menemui juru kunci Sedudo untuk menyerahkan sesajen dan meminta restu.

Setelah itu, aku harus menari di dalam air terjun sebagai tanda penghormatan, kemudian barulah melalui perantara juru kunci, pengambilan air suci dilakukan. Air suci itu diserahkan kepada pak Pardi selaku sesepuh dan pemimpin paguyuban tayub Ngrajek. Pak Pardi memercikkan air suci itu ke kepalaku. Sejak itulah aku resmi menjadi seorang ledhek. Aku lega dan senang. Akhirnya impianku menjadi ledhek terwujud. Dalam hati aku bersyukur prosesi penobatan ledhek tidak seperti prosesi bukak klambu bagi ronggeng.

Kini, akulah primadona tayub Ngrajek. Penonton selalu merindukanku. Mereka memuja dan mengagumiku. Banyak lelaki yang tergila-gila karena kecantikanku. Tidak ketinggalan, para ibu pun memintaku menyium putra putrinya. Sudah lima tahun aku jalani profesi sebagai seorang ledhek Ngrajek. Dari penghasilanku, bu lik dan anak-anaknya mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Aku pun semakin menikmati kesuksesanku.

Namun, roda kehidupan tak selalu di atas. Adakalanya harus di bawah. Tiap tahun usiaku semakin bertambah. Penonton pun semakin terlihat bosan denganku. Hadirnya ledhek-ledhek baru pun menjadi penghambat pesonaku. Kecantikan dan kepiawaianku yang alami tak lagi mampu menggaet perhatian penonton. Aku begitu cemas. Aku tak ingin semua kesuksesan ini sirna. Aku harus selalu menjadi primadona. Tidak boleh ada satu orang pun yang menandingi kecantikan dan kepiawaianku sebagai ledhek Ngrajek. Bisikan-bisikan syetan itu merasuk. Aku begitu terbuai dengan rayuan syetan yang menggoda. Kesuksesan dan ketenaran telah membuatku lupa diri. Aku akan menghalalkan segala cara agar aku tetap bisa menjadi primadona tayub. Kuputuskan untuk memasang susuk di beberapa bagian tubuhku.

Aku berhasil mendapatkan perhatian penonton kembali. Dengan susuk di beberapa bagian tubuhku, aku terus memukau para penonton. Saweran pun semakin bertambah. Namun, itu tidak membuatku puas. Aku ingin lebih dan lebih. Sekali aku terjerumus oleh bisikan syetan, maka seterusnya aku menjadi budak syetan.

***

Senja ini, saksi bisu penyesalanku. Kini, aku harus menanggung akibat dari semua perbuatanku. Bu lik, Sarni, Erna dan Karno tak lagi menemaniku. Mereka aku jadikan tumbal bagi kesuksesanku. Aku benar-benar telah gelap mata. Dan kini aku menyesali semua itu. Rumah megah ini sepi. Tak lagi ada tawa riang Erna dan Karno menghiasi sudut-sudut bangunan yang kubangun dengan kerja kerasku sebagai ledhek Ngrajek. Siang dan malam aku dihantui rasa bersalah. Seakan-akan arwah bu lik dan sepupu-sepupuku masih bergentayangan meminta pertanggungjawabanku. Oh bu lik, maafkan aku yang tak tahu membalas budi. Kesuksesan dan kekayaan telah membutakan mata hatiku, hingga aku tega mengorbankan orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupanku.

Senja ini, senja terakhir bagiku. Kutatap cahaya bundar keemasan di ufuk barat. Cahayanya tak lagi mampu mencerahkan hatiku yang hampa ini. Kicau burung-burung yang terbang tak lagi mampu menghibur gundahku. Penyesalan memang selalu terjadi di akhir cerita. Dadaku begitu sesak. Air bening tak mau berhenti membasahi pipiku.

Senja mulai pergi. Cahaya keemasan itu pun sirna, digantikan warna hitam gelap pertanda datangnya sang malam. Kutatap sejenak gelas yang sedari tadi kupegang. Gelas itu penuh berisi cairan. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya kuputuskan menenggak habis cairan gelas itu. Tak berapa lama aku merasakan kepalaku pusing hebat, tubuhku menggigil, dan busa keluar dari mulutku. Aku ambruk, menjemput malaikat maut.

– SELESAI –


[1] Sebutan untuk bibi (adik ibu)

[2] Makanan yang terbuat dari gaplek (singkong yang dikeringkan)

[3] Menanam padi

[4] Ledhek = sebutan untuk penari tayub

[5] Menyanyi

[6] Batang padi. Biasanya setelah panen, dami kering yang tertinggal di sawah dibakar.

[7] Panggilan untuk anak perempuan (bahasa Jawa)

[8] Yang penting cantik, bisa menari dan menyanyi