Archive for November, 2008


TEORI EVOLUSI

 TEORI EVOLUSI

Evolusi adalah proses perubahan yang terjadi secara perlahan dan terus menerus dalam waktu yang sangat panjang.

 Teori Evolusi Charles Darwin

Seorang ilmuwan Inggris bernama Charles Robert Darwin (1802-1882) dalam bukunya yang berjudul “The Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life” (1859) mengemukakan gagasannya tentang evolusi yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam buku tersebut dikemukakan bahwa asal usul makhluk hidup yang menjadi dasar evolusi organiknya adalah adanya seleksi alam dan seksual.

Karena lingkungan selalu berubah, berubah pula organisme di dalamnya dan individu yang paling cocok dengan lingkungan alam akan membuahkan keturunan yang tercocok. Dalam kehidupan terjadi seleksi alami dan seksual. Seleksi alami berupa pertarungan dalam kehidupan. Artinya yang kuat akan terus hidup.

Misalnya, rusa dengan tanduk yang besar dapat mengalahkan rusa yang bertanduk kecil dalam penguasaan daerah yang menjadi sumber makanan. Akibat kekurangan makanan, maka populasi rusa bertanduk kecil menurun dan akhirnya habis (punah).

Seleksi seksual wujudnya adalah yang kuat akan mengusir yang lemah, sehingga yang lemah tidak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan keturunannya. Populasinya akan menurun dan akhirnya akan habis / punah.

Dari kedua teori tersebut lahir pengertian berlakunya survival of the fittest, artinya yang kuatlah yang berjaya, dan pengertian struggle for existence, artinya perjuangan demi keberadaan.

Teori evolusi Darwin terdiri dari dua teori pokok :

  • Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa lampau.

  • Evolusi terjadi melalui seleksi alam

Teori tersebut yang ditujukan pada dunia binatang berlaku juga pada manusia. Pada manusia seleksi seksual lebih berpengaruh daripada seleksi alam. Tentang ini ditulis Darwin dalam The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (1871). Teori dalam buku Man’s Place in Nature (1863) menguraikan perkembangan manusia secara ilmiah. Diambilnya perbandingan susunan anatomi manusia dengan kera, terutama dengan simpanse dan gorila, kedua makhluk tersebut paling dekat pertaliannya dengan manusia (ada pendapat yang menyebutkan persamaannya sampai 97%). Karena itu perkembangannya sangat mirip berdasarkan hukum evolusi. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia sekarang adalah keturunan monyet.

Pada waktu Charles Darwin mengemukakan teori evolusi, hal yang belum terjawab dalam bentuk bukti fosil adalah wujud makhluk yang menjadi penghitung antara kera dan manusia, sehingga disebut sebagai the missing link artinya mata rantai yang hilang.

Hal inilah yang mendorong Dr. Eugene Dubois datang ke Indonesia untuk mencari mata rantai yang hilang tersebut. Perolehannya di Trinil dan atas dasar keyakinannya, maka diberi nama Pithecanthropus yang artinya manusia kera. Ada anggapan bahwa itulah mata rantai hilang yang telah ditemukan. Pendapat baru menyebutkan bahwa missing link antara kera dengan manusia tidak terletak antara kedua makhluk tersebut, melainkan pada masa sebelumnya, sehingga dikatakan bahwa manusia sekarang bukan keturunan monyet.

 ( Sumber : Ilmu Alamiah Dasar, Drs. Supartono W, M.M.dkk)

Iklan

HADITS, SUNNAH, KHABAR, DAN ATSAR

 

HADITS

Pengertian Hadits

Menurut bahasa, Al-Hadits :

  1. nd n[gh yang baru

  2. Fdvrgh yang dekat : yang belum lama lagi terjadi

  3. vfogh berita / khabar

 

Menurut istilah, ada beberapa pendapat dari para ulama :

  1. Ulama Hadits umumnya menyatakan bahwa “Hadits ialah segala ucapan Nabi, segala perbuatan beliau, segala taqrir (pengakuan) beliau dan segala keadaan beliau”.

  2. Ulama Ushul menyatakan “Hadits ialah segala perkataan, segala perbuatan dan taqrir Nabi, yang berhubungan dengan hukum”.

  3. Sebagian Ulama antara lain At-Thiby menyatakan “Hadits ialah segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi, para sahabat dan para Tabi’in”.

  4. Abdul Wahab Ibnu Subky dalam Mutnul Jam’il Jawami menyatakan “Hadits ialah segala perkataan dan perbuatan Nabi SAW”.

 

Hal-hal yang termasuk kategori Hadits, menurut Dr. Muhammad Abdul Rauf ialah :

  1. Sifat-sifat Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat.

  2. Perbuatan dan akhlak Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat.

  3. Perbuatan para sahabat di hadapan Nabi yang dibiarkannya dan tidak dicegahnya, yang disebut “taqrir”.

  4. Timbulnya berbagai pendapat Sahabat di hadapan Nabi, lalu beliau mengemukakan pendapatnya sendiri atau mengakui salah satu pendapat sahabat itu.

  5. Sabda Nabi yang keluar dari lisan beliau sendiri.

  6. Firman Allah selain Al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi, yang disebut Hadits Qudsy.

  7. Surat-surat yang dikirimkan Nabi, baik yang dikirim kepada para sahabat yang bertugas di daerah, maupun yang dikirim kepada pihak-pihak di luar Islam.

 

Sebab-sebab Hadits dinamai dengan Hadits

  1. Menurut Az-Zumakhsyary:

Karena pada saat kita meriwayatkan Hadits, kita menyatakan :

  1. Menurut Al-Kirmany dan Ibnu Hajar Al-Asqalany:

Karena ditinjau dari segi “kebaruannya” dan sebagai perimbangan terhadap Al-Qur’an yang bersifat qadim, azaly. Dr. Subhy Shalih menyatakan bahwa para Ulama telah menghindarkan diri untuk menggunakan istilah “Haditsullah” untuk Al-Qur’an.

  1. Menurut Al-Qasimy:

    1. Karena kalimat dalam Hadits itu tersusun dari huruf-huruf yang datang beriringan. Tiap-tiap huruf terjadi sesudah terjadi yang sebelumnya.

    2. Karena dengan mendengar Hadits, akan menimbulkan dalam hati berbagai-bagai ilmu dan pengertian.

 

KHABAR

Menurut bahasa, khabar berarti berita.

Menurut istilah, ada dua pendapat :

  1. Sebagian Ulama menyatakan bahwa Khabar sama dengan Hadits. Jadi Khabar adalah apa yang datang dari Nabi, baik yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi), yang mauquf (yang disandarkan kepada Sahabat), maupun yang maqthu’ (yang disandarkan kepada Tabi’in).

  2. Sebagian Ulama membedakan Khabar dengan Hadits.

Dr. Muhammad Ajaj Al-Khatib dalam kitabnya Ushulul Hadits menjelaskan :

  1.  
    1. Sebagian pendapat menyatakan Hadits adalah apa yang berasal dari Nabi, sedangkan Khabar adalah apa yang berasal dari selainnya.

    2. Sebagian pendapat menyatakan Hadits bersifat khusus sedang Khabar bersifat umum. Oleh karena itu tiap-tiap Hadits adalah Khabar dan tidak setiap Khabar adalah Hadits.

 

ATSAR

Menurut bahasa, Atsar berarti bekas atau sisa sesuatu; atau dapat diartikan nukilan atau yang dinukilkan. Do’a yang dinukilkan dari Nabi dinamai “Do’a ma’tsur”.

 

Menurut Istilah ada dua pendapat :

  1. Atsar sama dengan Hadits.

At-Thabary, memakai kata-kata atsar untuk apa yang datang dari Nabi.

  1. Atsar berbeda dengan Hadits.

    1. Menurut fuqaha, atsar adalah perkataan-perkataan Ulama Salaf, Sahabat, Tabi’in dan lain-lain.

    2. Menurut fuqaha Khurasan, Atsar adalah perkataan Sahabat, sedangkan Khabar adalah Hadits Nabi.

    3. Az-Zarkasyi, memakai istilah Atsar untuk Hadits Mauquf, tetapi boleh memakai istilah Atsar untuk Hadits Marfu’.

 

SUNNAH

Menurut Asy-Syaukani, Sunnah berarti :

jalan, walaupun tidak diridlai.

Dr. Mustafa As-Siba’iy dalam kitabnya As-Sunnah wa Makana tuha fit Tasyri’il Islamy mengatakan bahwa arti Sunnah menurut bahasa ialah :

 

jalan, baik terpuji maupun tercela.

 

Menurut istilah, ada beberapa pendapat :

  1. Menurut Ahli Hadits

Sunnah Segala yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, taqrir, pengajaran, sifat, keadaan, maupun perjalanan hidup beliau, baik yang terjadi sebelum maupun sesudah menjadi Rasul.

  1. Menurut Ahli Ushul

Sunnah Segala yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir (pengakuan), yang mempunyai hubungan dengan hukum.

  1. Menurut Ahli Fiqih

Sunnah Suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan dan tidak diberi siksa apabila ditinggalkan.

  1. Menurut Ibnu Taimiyah

Sunnah Adat (tradisi) yang telah berulah kali dilakukan masyarakat, baik yang dipandang ibadah maupun tidak.

  1. Menurut Dr. Taufiq Sidqy

Sunnah Thariqat (jalan) yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw, terus-menerus dan diikuti oleh para sahabat beliau.

  1. Menurut Prof. Dr. T. M. Habsi Ash-Shiddieqy

Sunnah Suatu amalan yang dilaksanakan oleh Nabi saw, secara terus menerus dan dinukilkan kepada kita dari zaman ke zaman dengan jalan mutawatir”.

 

Perbedaan Hadits dan Sunnah

  1. Menurut Sulaiman An-Nadwi

    1. Hadits segala peristiwa yang dinisbahkan kepada Nabi saw, walaupun hanya satu kali saja dikerjakan dan walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja”.

    2. Sunnah nama bagi sesuatu yang kita terima dengan jalan mutawatir dari Nabi saw.

  2. Menurut Dr. Abdul Kadir Hasan

    1. Hadits Sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi berupa

(perkara ilmu pengetahuan teori). Jadi bersifat teoritis. :

  1.  
    1. Sunnah Sesuatu tradisi yang sudah tetap dikerjakan oleh Nabi saw, atau berupa (perkara yang bersifat amalan). Jadi bersifat praktis.

  2. Menurut Al-Kamal Ibnu Humam

    1. Hadits Segala yang diriwayatkan dari Nabi, yang hanya terbatas berupa perkataan saja”.

    2. Sunnah Segala yang diriwayatkan dari Nabi, baik perbuatan maupun perkataan”.

  3. Menurut Dr. Taufiq Sidqy

    1. Hadits Pembicaraan yang diriwayatkan oleh orang seorang, atau dua orang, kemudian hanya mereka saja yang mengetahuinya (tidak menjadi pegangan atau amalan umum).

    2. Sunnah Suatu jalan yang dipraktekkan oleh Nabi secara terus menerus dan diikuti oleh para sahabat beliau.

  4. Menurut Ibnu Taimiyah

    1. Istilah Hadits, bila tidak dikaitkan dengan lafadz lain berarti :

“Segala yang diriwayatkan dari Nabi, baik perkataan, perbuatan maupun pengakuannya.”

  1.  
    1. Istilah Sunnah, bila tidak dikaitkan dengan lafadz berarti :

“Tradisi (adat) yang berulangkali dilakukan masyarakat, baik dipandang ibadah maupun tidak”.

 PENDAHULUAN

  

  1. Latar Belakang Masalah

Seperti kita ketahui, Alquran merupakan salah satu sumber hukum Islam yang keorisinalitasnya dapat dipertanggung jawabkan, karena ia merupakan wahyu Allah baik dari segi lafadz maupun makna. Selain itu seluruh ayat dalam Alquran dinukilkan atau diriwayatkan secara mutawatir baik hafalan maupun tulisan.

Alquran tidak terlepas dari aspek qira’at, karena pengertian Alquran itu sendiri secara lughat (bahasa) berarti ‘bacaan’ atau ‘yang dibaca’. Qira’at Alquran disampaikan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat. Kemudian sahabat meneruskan kepada para tabi’in. Demikian seterusnya dari generasi ke generasi.1

Namun, dalam perjalanan sejarahnya, qira’at pernah diragukan keberadaannya dan diduga tidak bersumber dari Nabi SAW. Sehubungan dengan hal tersebut, maka para ulama ahli qira’at terdorong untuk meneliti dan menyeleksi berbagai versi qira’at yang berkembang pada masa itu. Berbagai versi qira’at Alquran tersebut ada yang berkaitan dengan lafadz dan dialek kebahasaan. Perbedaan yang berkaitan dengan lafadz bisa menimbulkan perbedaan makna sedangkan dialek tidak. Ada juga versi qira’at yang berkaitan dengan ayat-ayat hukum yang berbeda dengan versi qira’at sebagaimana terbaca dalam mushaf yang dimiliki kaum muslimin sekarang. Perbedaan ini dapat menimbulkan istinbath hukum yang berbeda pula.

Oleh karena itu diperlukan pemahaman dan pengetahuan mengenai ilmu qira’at agar kita dapat mengetahui pengertian dan latar belakang perbedaan qira’at serta pengaruhnya terhadap istinbath hukum dalam Alquran.

 

  1. Permasalahan

Dari latar belakang di atas, maka penyusun dapat merumuskan masalah :

  1. Apakah Qira’at itu?

  2. Mengapa terjadi perbedaan versi qira’at ?

  3. Bagaimana pengaruh perbedaan qira’at terhadap istinbath hukum dalam Alquran ?

 

PEMBAHASAN

 

 

  1. Pengertian Qira’at Al Qur’an

Qira’at menurut bahasa merupakan isim mashdar dari lafal qara’aﻗرأ (fi’il madhi), yang berarti membaca. Maka qira’at berarti bacaan atau cara membaca.2

Sedangkan menurut istilah definisi qira’at yaitu :

ﺁﻠﻘرﺍﺀۃ ﻧﻮﻉٌ ﻣﻦ ﺍﻟﺗﻼﻮۃِ ﺗﻮﻔﻗﺎ ﺍﻠﻠﻐﺔِ ﺍﻠﻌﺮﺒﻴﺔِﻮﺗﻮﺍﺗﺮﺴﻧﺪِھﺎ ﻮﻮﺍﻓﻗﺖ

ﺇﺤﺪﺍﻟﻤﺻﺎ ﺤﻒ ﺍﻠﻌﺜﻤﺎﻨﻴﺔِ

Qira’at ialah salah satu cara membaca Alquran yang selaras dengan kaidah bahasa Arab dan sanadnya mutawatir serta cocok dengan salah satu dari beberapa mushaf Ustman” 3

Menurut Ibnul Jauzy dalam kitab Munjidul Muqri’in, mendefinisikan qira’at sebagai berikut :

ﺍﻠﻘﺭﺍﺀﺓﻋﻠﻡ ﺑﮕﻴﻔﻴﺎﺕ ﺍﺪ ﺍﺀ ﻛﻟﻣﺎﺖ ﺍﻠﻘﺭﺍﻦﻮﺍﺨﺗﻶ ﻔﮭﺍ

Qira’at ialah ilmu mengenai cara mengucapkan kalimat-kalimat Alqur’an dan perbedaan-perbedaannya.” 4

Sedangkan menurut Imam Az-Zarqani qira’at yaitu suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan lainnya dalam pengucapan Alquran serta sepakat riwayat-riwayat dan jalur-jalur daripadanya, baik perbedaan ini dalam pengucapan huruf-huruf maupun dalam pengucapan keadaan-keadaannya.5

Jadi qira’at adalah cara membaca ayat-ayat Alquran yang berupa wahyu Allah SWT, dipilih oleh salah seorang imam ahli qira’at, berbeda dengan cara ulama lain, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir sanadnya dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta cocok dengan bacaan terhadap tulisan Alquran yang terdapat dalam salah satu mushaf Ustman.

 

  1. Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at

Pada zaman Nabi SAW, sahabat dan umat beliau waktu itu memperoleh ayat-ayat Alquran dengan cara mendengarkan, membaca dan menghafalkannya secara lisan dari mulut ke mulut. Barulah pada masa khalifah Abu Bakar Ash Siddiq r.a, Alquran mulai dibukukan dalam satu mushaf atas saran dari Umar bin Khattab r.a. Abu Bakar Ash Siddiq memerintahkan Zaid bin Sabit untuk mengumpulkan seluruh ayat Alquran dan ditulis dalam satu mushaf. Pembukuan Alquran ini berlangsung sampai khalifah Ustman bin Affan.

Pada masa pemerintahan Khalifah Ustman bin Affan r.a terdapat perselisihan sesama kaum muslimin mengenai bacaan Alquran yang hampir menimbulkan perang saudara sesama muslim. Perselisihan ini disebabkan mereka berlainan dalam menerima bacaan ayat-ayat Alquran karena oleh Nabi diajarkan cara bacaan yang sesuai dengan dialek mereka masing-masing. Namun mereka tidak memahami maksud Nabi melakukan hal tersebut sehingga tiap suku/golongan menganggap bacaan mereka yang paling benar sedangkan yang lain salah. Untuk mengatasi perselisihan, khalifah Ustman bin Affan r.a memerintahkan untuk menyalin mushaf Alquran pada masa Abu Bakar Ash Siddiq dan memperbanyaknya kemudian mengirimkan ke berbagai daerah. 6


  1. Macam-macam Qira’at

Sebagian sahabat mengambil cara baca Alquran dari Rasul sesuai dengan kemampuan dan kesempatan masing-masing. Kemudian para sahabat berpencar ke berbagai daerah untuk mengajarkan cara baca yang mereka ketahui. Hal ini menyebabkan cara baca yang berbeda-beda dari satu kota/daerah dengan kota/daerah lainnya. Demikian halnya dengan para tabi’in, mereka menerima cara baca tertentu dari sahabat tertentu dan meneruskan ke generasi berikutnya sehingga menimbulkan berbagai macam qira’at berdasarkan riwayat.

As Suyuti mengutip Ibnu Al-Jazari yang mengelompokkan qira’at berdasarkan sanad terbagi enam macam7 yaitu :

  1.  
    1. Mutawatir, diriwayatkan oleh sekelompok orang banyak dari orang banyak, dan mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Contoh : qira’at sab’ah dengan imam qira’atnya berjumlah 7 orang yaitu : Nafi’, ibn Kasir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, dan al-Kisa’i.

    2. Masyhur, diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir, sanadnya shahih dan sesuai dengan kaidah basa Arab dan rasm al-mushaf. Contoh : qira’at yang dinisbatkan kepada tiga imam yaitu Abu Ja’far ibn Qa’qa’ al-Madani, Ya’qub al-Hadrami, Khalaf al-Bazzar.

    3. Ahad, sanadnya shahih tetapi tidak mencapai tingkat masyhur dan menyalahi rasm al-mushaf.

    4. Syaz, sanadnya tidak shahih. Contoh : ﻤﻠﻚ ﻴﻮﻡ ﺍﻠﺪ ﻴﻦ (Q.S Al-Fatihah : 4)

di versi lain dibaca ﻤﻠﻚﻴﻮﻡ ﺍﻠﺪ ﻴﻦ

  1.  
    1. Maudu’, tidak bersumber dari Nabi SAW.

Contoh : ﻮﻜﻟﻡﺍﷲ ﻤﻮﺴﻲ ﺘﮑﻟﻴﻤﺎ

Dalam versi lain dibaca : ﻮﻜﻟﻡﺍﷲ ﻤﻮﺴﻲ ﺘﮑﻟﻴﻤﺎ

  1.  
    1. Mudraj, berfungsi sebagai tafsir atau penjelasan suatu ayat al-Qur’an

 

  1. Pengaruh Perbedaan Qira’at terhadap Istinbath Hukum dalam Al Qur’an

Istinbath hukum dapat diartikan sebagai upaya melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baik dalam Alquran maupun Sunnah. Hal ini tidak terlepas dari ayat-ayat hukum dalam Alquran. Ayat-ayat hukum ialah ayat-ayat Alquran yang mengatur dan berkaitan dengan tingkah laku dan perbuatan manusia secara lahir. Ada ayat-ayat hukum yang termasuk ibadah yaitu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan ada ayat hukum yang termasuk muamalah yaitu mengatur hubungan manusia dengan manusia lain secara horisontal.

Perbedaan qira’at bisa terjadi pada huruf, bentuk kata, i’rab, susunan kalimat. Hal ini bisa menyebabkan perbedaan makna/arti dari ayat yang berpengaruh kepada istinbath hukum.

Misal perbedaan qira’at pada ayat :

ﻴﺎ ﺁﻴﮭﺎﺍﻠﺫﻴﻦ ﺁﻤﻨﻮﺍ ﺇﺬﺍ ﻘﻤﺘﻡ ﺇﻠﻲﺍﻠﺻﻠﻮﺓﻔﺎﻏﺴﻠﻮﺍﻮﺠﻮﻫﻛﻡ

ﻮﺍﻴﺩﻴﻜﻡﺍﻠﻲ ﺍﻠﻤﺮﺍ ﻔﻖ ﻮﺍﻤﺴﺤﻮﺍﺒﺮﺆﺴﻜﻡﻮﺍﺮﺠﻠﻜﻡ ﺍﻠﻲ ﺍﻠﻜﻌﺒﻴﻦ (ﺍﻠﻤﺎﺋﺪﺓ:٦)

 

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” 8

Berdasarkan ayat di atas, sebagian ulama memahami wajib membasuh kedua kaki dan sebagian lain membedakan dengan menyapunya. Nadi’, Ibnu Amr, dan Al Kisai membaca ﺁﺮﺠﻠﻜﻡ dengan nasb (fathah lam). Sedangkan Ibnu Katsir, Abu Amir, dan Hamzah membaca dengan jarr (kasrah lam).9

Dengan demikian dapat dikatakan besarnya pengaruh perbedaan qira’at dalam proses penetapan hukum. Sebagian qira’at berfungsi sebagai penjelasan kepada ayat yang mujmal (bersifat global) menurut qira’at lain atau penafsiran dan penjelasan terhadap maknanya. Bahkan, tidak jarang, perbedaan qira’at menimbulkan perbedaan penetapan hukum di kalangan ulama. Menurut Musthafa Sa’id Al-Khinn penyebab pertama timbulnya perbedaan pendapat para ulama adalah qira’at. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang berbagai qira’at sangat perlu bagi seorang yang akan mengistinbath hukum dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. 10


E. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan pengetahuan mengenai ilmu qira’at sangatlah penting. Hal ini ditujukan agar kita tidak saling berselisih karena perbedaan cara baca ayat Alquran seperti yang pernah terjadi pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan. Perbedaan versi qira’at disebabkan karena para ulama berlainan dalam menerima bacaan ayat, sehingga terjadi perselisihan di antara ulama. Kemudian khalifah Ustman bin Affan menyalin dan menyebar luaskan ayat Alquran pada masa Abu Bakar Ash Siddiq ke berbagai daerah untuk mengatasi perselisihan.

Pengaruh perbedaan qira’at terhadap istinbath hukum dalam Alquran sangat besar. Pengetahuan tentang berbagai versi qira’at sangat diperlukan bagi seseorang yang akan mengistinbath hukum maupun menafsirkan ayat-ayat Alquran.

 

1 Hasanuddin AF, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an,

(Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 1995), hal 5

2 Abdul Djalal H.A, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Pustaka Dunia Ilmu, 1998), hal 327

3 Ibid

4 Ibid hal : 328

5 Ahmad Syadali dkk, Ulumul Qur’an 1 untuk Fakultas Tarbiyah, (Bandung : Pustaka Setia, 2000) hal 224

6 Hasanuddin AF, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an,

(Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 1995), hal 2-3

7 Ibid hal 141

8 Ahmad Syadali dkk,Ulumul Qur’an 1 untuk Fakultas Tarbiyah, (Bandung : Pustaka Setia, 2000) hal 235-236

9 Ibid

10 Ibid hal 237