Latest Entries »

Dalam Mihrab Cinta

Gambar

Demi cinta ku pergi
Tinggalkanmu relakanmu
Untuk cinta tak pernah
Ku sesali saat ini
Ku alami ku lewati

Reff:
Suatu saat ku kan kembali
Sungguh sebelum aku mati
Dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

Suatu hari kau kan mengerti
Siapa yang paling mencintai
Dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya

Karena cinta ku ikhlaskan
Segalanya kepadanya

Untuk cinta tak pernah
Ku sesali saat ini
Ku alami ku lewati

Repeat Reff 2x

Suatu saat ku kan kembali
Sungguh sebelum aku mati
Dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

Suatu hari kau kan mengerti
Siapa yang paling mencintai
Dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya

semoga

semoga

Lowongan Pendamping PKH Kabupaten Purbalingga

Nih ada lowongan buat jadi Pendamping atau Operator PKH.. langsung aja klik link’nya yaa.. yuuukkk cap cuusss… ^_^

“Hanya TUHAN ya…

“Hanya TUHAN yang selalu Setia,
disaat yang lain tak mampu Setia di sisimu”

Still waiting for you..

Still waiting for you..

setiap waktu aku selalu merindukanmu,
apa kau disana juga merindukanku?
atau telah lupa semua kenangan
yang pernah kita ukir bersama?

Engkau bagai air yang jernih

di dalam bekas yang berdebu

Zahirnya kotoran itu terlihat

Kesucian terlindung jua

 

Cinta bukan hanya di mata

Cinta hadir di dalam jiwa

Biarlah salah di mata mereka

Biar perbezaan terlihat antara kita

 

Kuharap engkau kan terima

walau dipandang hina

Namun hakikat cinta kita

Kita yang rasa

 Gambar

Suatu hari nanti

pastikan bercahaya

pintu akan terbuka

kita langkah bersama

 

Disitu kita lihat

bersinarlah hakikat

Debu jadi Permata

Hina jadi Mulia

 

Bukan hayalan

yang aku berikan

Tapi keyakinan yang nyata

Kerana cinta lautan berapi

pasti akan kurenang jua

Sometimes I wonder
How I’d ever make it through,
Through this world without having you
I just wouldn’t have a clue

‘Cause sometimes it seems
Like this world’s closing in on me,
And there’s no way of breaking free
And then I see you reach for me

Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight
And then I see you, baby
And everything’s alright,
everything’s alright

When I see you smile
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain
When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me

Baby there’s nothing in this world
that could ever do
What a touch of your hand can do
It’s like nothing that I ever knew

And when the rain is falling
I don’t feel it,
’cause you’re here with me now
And one look at you baby
Is all I’ll ever need,
you’re all I’ll ever need

Chorus

Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight
And then I see you baby
And everything’s alright,
everything’s alright

So right…

Catatan hati Emak

Cerpen ini terpilih sebagai juara II Lomba Cipta Cerpen PORSEMA STAIN Purwokerto.

Malam itu tak berhias bintang. Namun, kau tetap menatap langit. Duduk memeluk lutut demi menepis nafas dingin sang dewi angin. Entah apa yang kau lihat di sela-sela gumpalan awan mendung itu. Bagiku, tak nampak apapun, tapi kau terlihat asyik memandangnya.

Di ujung jalan nampak beberapa orang berjaga di sebuah pos ronda. Mereka bercengkrama dan kukira sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Ah, andai kita bisa ikut menyeruputnya juga. Aku bahkan sudah lupa rasa kopi.

Jalan di depan kita telah lengang. Lampu-lampu jalan menyala redup. Tapi cukuplah untuk menerangi kita berdua. Lampu di emperan toko tempat kita duduk, mati. Mungkin putus. Namun kita telah terbiasa dengan gelap dan redup. Seperti itulah hidup kita selama ini. Kalau tidak gelap, ya redup. Tak pernah terang, apalagi benderang. Ah, tak guna lagi meratapi nasib. Ratapan tak akan mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Ratapan hanya akan membuat kita semakin terpuruk.

Mungkin tengah malam telah lewat. Kupandangi tubuh kurus di depanku. Bocah berumur 8 tahun itu masih menatap langit. Ia anakku.

Mak[1], kapan aku bisa sekolah?”

Jantungku seakan berhenti saat tiba-tiba kau ucapkan tanya itu. Telah berkali-kali kau tanyakan hal itu, namun sampai sekarang masih tak kutemukan jawabnya. Diam beberapa saat. Lalu kau menoleh padaku, mengharap sebuah kata meluncur dari bibir yang kering karena hari ini tak ada makanan yang membasahinya. Bibirku benar-benar kelu. Satu kata pun tak mampu kuucap. Aku merunduk menghindari tatapan mata penuh harap itu.

Helaan nafas panjang mengakhiri tatapanmu. Kau beranjak, menata lembaran kardus-kardus bekas, alas tidur kita. Lalu kau rebah, meringkuk menahan dingin karena tak berbalut selimut. Tak lama kau pun tertidur. Kuharap berjuta angan dan harapan yang bersemayam di benakmu itu menjelma menjadi mimpi indahmu malam ini.

Oh, anakku, maafkan emakmu yang tak mampu memberimu hidup yang layak. Selama ini kita hidup dari belas kasihan orang. Kadang harus rela tidak makan. Tidur di emperan toko. Siang kepanasan malam kedinginan sudah hal biasa bagi kita.

Aku menyadari, usia 8 tahun harusnya kau sudah bisa membaca, menulis, berhitung seperti anak lain sebayamu. Sering aku melihatmu memandangi bocah-bocah berseragam merah putih. Hatiku semakin perih. Mataku tak kuasa membendung air bening yang mengalir. Kutahu kau benar-benar ingin seperti mereka. Namun, nasib sial ini seakan tak mau pergi.

Suatu malam kau pernah berkata, “Mak, aku ingin menjadi menteri biar kita tidak kelaparan lagi. Biar emak bisa tidur di kasur yang empuk dan berselimut tebal, jadi tidak akan kedinginan lagi. Suatu hari, mak, aku yakin aku pasti meraihnya.” Harapan yang begitu menggebu kau katakan dengan penuh semangat. Maka aku hanya bisa mengamininya. Aku tak ingin menghancurkan impianmu itu.

Kadang aku berpikir mungkinkah anakku menjadi seorang menteri. Rasanya mustahil. Bagaimana mungkin menjadi menteri jika sekolah saja tidak. Bagaimana bisa sekolah jika untuk makan saja susah. Akhirnya itu hanyalah sebatas mimpi yang akan hilang saat terjaga. Mimpi yang entah akan terwujud atau hanya akan menjadi harapan kosong seorang bocah berusia 8 tahun. Kehendak Tuhanlah yang akan menjawabnya. Bukankah jika Tuhan menghendaki, segala yang mustahil akan menjadi nyata? Itulah yang dikatakan ustadz masjid yang terkadang memberi kita sedekah.

Telah lama kita mencoba bersabar. Namun itu sudah terlalu lama. Kesabaran sedikit demi sedikit digerogoti rasa putus asa yang akhirnya hanya ada kepasrahan. Kepasrahan pada nasib yang dilukiskan di telapak tangan kita.

Tidurlah, nak. Semoga mimpimu bisa menjelma nyata. Itulah bisikan hatiku sebelum ikut terlelap malam itu.

~

Mak, aku ditawari sekolah oleh ibu yang kutolong tadi siang.” Katamu di malam yang lain.

Alhamdulillah, nak. Memangnya siapa ibu yang berhati baik itu?”

“Aku juga belum tahu. Ia hanya memberikan alamat rumahnya bila sewaktu-waktu aku menerima tawarannya.”

“Tunggu apa lagi? Terima saja tawarannya. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan? Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang diberikan Tuhan padamu.”

“Tapi, mak…”

“Tapi apa?”

Hening beberapa saat. Aku menatap wajah anakku lekat-lekat. Di matanya kulihat keraguan. Mengapa tiba-tiba keraguan menyelimuti anakku. Anakku yang selalu semangat dan yakin dalam berbagai hal. Setelah hening yang membuat malam semakin senyap, kau pun melanjutkan kata-katamu.

“Ibu itu mensyaratkan aku menjadi anaknya barulah dia mau menyekolahkanku. Ibu itu bercerita bahwa telah lama dia dan suaminya menginginkan anak. Namun hingga di usia pernikahan mereka yang ke-20 belum juga dikaruniai anak.”

Oh, Tuhan. Mengapa harus ada syarat seperti itu. Syarat itu akan membuatku terpisah dari anakku. Tapi aku tak ingin anakku terus mengalami nasib sial ini. Dia harus menggapai mimpinya.

“Terimalah tawaran ibu yang baik hati itu, nak. Walaupun itu berarti kita akan berpisah. Tapi bukankah emak masih bisa menjengukmu? Emak janji akan sering menjengukmu.”

Senyum menghiasi wajah mungilmu. Pelukan hangat mengakhiri perbincangan kita malam itu.

~

Malam-malam selanjutnya aku lewatkan sendiri. Tak ada lagi bocah yang menatap ke langit. Air mataku berlinang saat kuingat wajah anakku. Setiap malam rindu selalu merasuk. Tapi aku harus menelan rasa rindu itu demi kebahagiaan dan masa depan anakku. Bocah 8 tahun dengan sejuta mimpi di benaknya. Aku hanya bisa berdoa semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti anakku.

Setiap minggu aku sempatkan menjenguknya. Anakku selalu menyambutku dengan wajah ceria. Ia akan menceritakan pengalaman-pengalaman barunya dengan begitu semangat. Bahagia rasanya melihatnya seriang itu.

Suatu hari di minggu kesepuluh aku kembali mendatangi rumah besar dan megah tempat anakku tinggal bersama orang tua angkatnya. Namun, tak seperti biasanya, rumah itu sepi. Tak nampak senyum ceria menyambutku. Senyum dari bocah yang selalu aku rindukan. Mengapa rumah ini begitu lengang. Aku berkali-kali memencet bel dan menunggu di depan gerbang yang terkunci. Cukup lama hingga akhirnya seorang perempuan keluar menghampiri gerbang.

“Maaf bu, di sini tidak melayani sumbangan.”

“Saya bukan mau minta sumbangan, mbak. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya yang tinggal di sini.”

“Sayang sekali bu, keluarga yang tinggal di sini sudah pindah ke Jakarta dua hari yang lalu. Rumah ini akan dijual.”

Duh Gusti, aku tak kuasa menopang tubuhku. Aku terduduk lemas. Tak sanggup berkata-kata. Air bening mengalir dari mata yang semakin cekung. Kini, mata ini tak bisa lagi melihat senyum bocah dengan sejuta mimpi di benaknya. Ya, bocah itu telah pergi jauh meninggalkanku. Tanpa ada kata perpisahan. Tak tahu kapan ia akan kembali.

Oh, Tuhan. Beginikah akhir kisah kami. Aku yang semakin renta ini harus kehilangan anakku. Sungguh, aku ingin menghabiskan akhir hidupku bersama anakku. Berlama-lama memandang wajahnya dan mendengar tawanya. Namun kini, wajah itu hanya bisa kukenang. Tawa itu tak bisa lagi kudengar. Aku tak tahu bagaimana akan kuhabiskan hari-hariku tanpa dirinya. Anakku tercinta.

~

Nak, ingatkah kau pada emakmu yang renta ini? Emak yang selalu merindukanmu di kala embun masih memeluk mentari. Kini, genap sepuluh tahun emak menunggumu di kota kecil ini. Kota tempat dulu kita bergelut dengan kesengsaraan. Ingatkah kau pada emperan toko tempat kita duduk menghabiskan malam sambil menatap ribuan berlian di langit. Di sanalah kau gantungkan sejuta impianmu. Lalu kita akan segera terlelap. Walau hanya beralas lembaran kardus bekas tanpa secuil selimut untuk menepis nafas dingin sang dewi angin. Membawa jutaan mimpi itu ke dalam tidur kita.

Nak, lupakah kau pada emakmu yang ringkih ini? Mengapa kau tak kunjung kembali. Doa emak selalu mengalir untukmu di tiap malam yang paling sunyi. Hanya untukmu, anakku. Semoga kau dapat meraih impian-impian yang tidak bisa emak berikan. Namun ingatlah, nak. Jika telah kau raih impian-impian itu, janganlah takabur dan kesombongan meracunimu. Aku tak ingin kau terjerumus pada kesengsaraan yang lebih dahsyat di kehidupan yang akan datang. Kehidupan di mana penyesalan tak berarti lagi.

Nak, sudah seperti apa kau sekarang? Ingin kutatap wajahmu. Ingin kudengar tawamu. Wajah yang hampir kulupa karena emakmu ini semakin renta. Kau pasti telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Pemuda tampan yang menjadi dambaan perempuan. Tapi bagiku kau tetap bocah mungilku. Bocah dengan sejuta impian yang selalu kurindu.


[1] Panggilan untuk ibu

Oleh : Ninna Zahrana

 

Kang, hidup di kota metropolitan memang tidak semudah menghirup udara pagi yang menyejukkan. Kita harus bergelut dengan rasa takut dan gengsi demi bertahan hidup. Belum lagi sikap orang-orang kota yang acuh, tidak peduli satu sama lain, sibuk dengan urusannya masing-masing. Deretan mobil-mobil pribadi bagaikan ular super panjang yang tak pernah putus sepanjang jalan. Asap yang mengepul dari knalpot metromini menambah polusi. Gedung-gedung megah berdiri kokoh dengan angkuhnya, seakan mengejek perkampungan kumuh di sekelilingnya. Ah.. apa enaknya hidup di kota.

Kang, aku sering bertanya-tanya mengapa dulu kita pindah ke kota ini. Kita meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota. Masihkah kau ingat jernihnya kali dan sawah yang hijau subur menambah indahnya panorama desa kita. Malam berkalung ribuan berlian di langit membuatku ribuan kali ucapkan syukur pada Penciptanya. Pernah suatu malam kau berjanji akan memetikkan satu di antara ribuan berlian itu untukku. Namun, janji itu tinggalah janji sebab kini sulit bagi kita untuk menikmati keindahan berlian-berlian itu. Mereka sembunyi karena gemerlap lampu-lampu kota telah mengalahkan cahayanya.

Kau boyong aku ke kota ketika umur pernikahan kita baru seminggu. Tergiur rayuan orang tentang kehidupan kota yang menjanjikan membuat kita tidak lagi betah hidup di desa yang serba sulit. Maka, aku pun dengan setia ikut denganmu walau kutahu kau tak punya rencana matang tentang nasib kita di kota nanti. Kita telah terbuai iming-iming semu. Kini kutahu hidup di kota lebih sulit dari yang dibayangkan.

Apa yang bisa ditawarkan oleh orang udik yang hanya lulus SMP? Pengalaman tak punya, apalagi keahlian. Itulah yang terpikir pertama kali menginjakkan kaki di kota. Namun, kau tak pernah menyerah begitu saja. Setiap hari kau berusaha mencari pekerjaan, walaupun akhirnya hanya lelah yang kau dapat. Selama beberapa minggu hidup kita ditanggung oleh tabungan. Ketika tabungan itu hampir tak tersisa, kau memutuskan untuk bekerja serabutan. Walau dengan penghasilan kecil dan tidak menentu, yang terpenting cukup untuk makan.

Rumah kontrakan sempit ini menjadi saksi bahtera rumah tangga kita. Di sinilah terekam kebahagiaan dan kesedihan kita. Ya, kesedihan karena tidak berhasil mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Hidup pas-pasan, perut pun kadang harus puasa. Tetapi semua itu tak membuatku bersedih. Selama kau berada di sisiku maka aku akan merasa bahagia.

Dua tahun pernikahan kita, Ratih, putri pertama kita lahir. Aku masih ingat raut kebahagiaan yang terpancar di wajahmu waktu itu. Putri kita mungil dan lucu. Ia memiliki mata indah sepertimu dan katamu hidungnya adalah jelmaan hidungku. Saat itu, tak terpikir oleh kita, dengan bertambahnya anggota keluarga, maka akan bertambah pula biaya hidupnya.

Tahun ke delapan pernikahan kita…

Ratih telah berumur enam tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat walaupun perawakannya kurus dan terlihat tak terurus. Tahukah kau, Kang. Berkali-kali ia bertanya padaku kapan ia bisa sekolah. Ia ingin sekali seperti teman-temannya yang lain, belajar membaca, menulis, berhitung dan lain-lain. Ia bercerita tentang temannya, Lastri, yang sudah bisa membaca rangkaian huruf yang terpampang pada papan kayu di depan Kantor Kecamatan. Betapa ia bersemangat untuk bisa sekolah. Namun aku hanya bisa mengusap rambutnya dan menghiburnya dengan kata-kata manis pengharapan. “Sabar ya, nak.”

Kang, aku tahu bila mengandalkan penghasilanmu saja, tentu tidak akan cukup membiayai sekolah Ratih. Untuk makan sehari-hari saja kita sudah cukup kesulitan, apalagi bila nanti ditambah dengan biaya sekolah.

Tapi sejak saat itu, kau semakin giat bekerja. Berangkat pagi-pagi buta, pulang malam. Tak ada lagi waktu senggang untuk kita berkumpul dan bercanda. Sebelum tidur kau sempatkan menengok Ratih yang telah terlelap. Kau selimuti dia lalu kau kecup keningnya, seakan-akan sirna segala penatmu hanya dengan melihat wajah mungilnya.

Setelah kerja kerasmu, akhirnya tabungan kita cukup untuk memasukkan Ratih ke Sekolah Dasar. Betapa gembiranya Ratih ketika ia mengenakan seragam barunya. Merah putih. Warna bendera negara kita. Lengkap dengan dasi dan topinya.

Tiga tahun berlalu…

Hari itu masih pagi. Mentari masih enggan keluar dari singgasana megahnya.

Kang, SPP Ratih sudah telat lima bulan.” Aku memulai pembicaraan sekedar mengingatkanmu akan tunggakan SPP Ratih.

“Iya, Bu. Aku tahu itu. Semoga hari ini banyak orang di pasar yang menggunakan tenagaku. Jadi kita bisa mendapat cukup uang untuk melunasi SPP Ratih.” jawabmu.

“Amin. Semoga Allah melimpahkan rizkiNya pada kita hari ini.” kataku penuh pengharapan.

Akang janji hari ini akan membawa uang agar Ratih tidak dikeluarkan dari sekolah.”

Aku hanya bisa tersenyum mengantarkan kepergianmu. Semoga Allah selalu menyertai-Mu, Kang. Kaulah suami yang terbaik. Suamiku tercinta.

 

Adzan berkumandang dari mushola dekat rumah kontrakan kita, tanda telah masuk waktu ‘Isya. Namun, aku masih termangu di ambang pintu menunggu kedatanganmu. Mengapa kau tak kunjung pulang, Kang? Pertanyaan itu berkali-kali kuucap dalam batinku. Rasa khawatir hinggap di hatiku. Aku berjalan mondar-mandir di depan teras. Cemas.

Satu jam berlalu sejak adzan yang merdu menyeru umat untuk menghadap Tuhannya. Ya, sholat. Itulah jawaban untuk keresahanku. Akhirnya kuputuskan untuk mengadukan segala gundah kepada Tuhanku. Lekas kuambil air wudhu. Lalu kuhadapkan diri ini padaNya. Memohon keselamatan atas akangku tersayang.

Setelah bercengkrama dengan Sang Maha Cinta, hatiku tenang kembali. Ku tengok sebentar ke kamar Ratih. Kulihat ia sudah pulas tertidur. Kurapikan letak selimutnya. Lalu kuusap rambutnya. Bocah kecil ini harus hidup menderita, bahkan terancam putus sekolah. Tak dapat kubendung lagi air bening yang memaksa keluar dari mataku. Akhirnya, kutinggalkan Ratih sendiri menikmati mimpi indahnya. Mimpi indah yang akan hilang saat dia terbangun nanti.

Aku lanjutkan penantianku. Duduk di kursi kayu yang menghiasi teras rumah kontrakan kita. Malam semakin larut. Masih juga tak nampak sosokmu. Ada firasat aneh yang menyelinap membuat hati ini semakin tak tenang. Astaghfirullah… Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. “Allah, selamatkanlah suamiku.” Bisikku pada hati yang gelisah ini. Do’aku tak henti kulantunkan untukmu, Kang.

Kucoba menahan kantuk yang mulai menggoda mata ini untuk menutup kelopaknya. Lampu 5 watt menemani penantianku ini walau dengan cahayanya yang redup. Saat mata ini hampir tak bisa kutahan lagi, terlihat samar sosok yang berjalan mendekat dengan tergesa. Semakin lama semakin dekat, menuju ke arahku duduk. Dalam hati aku mengira itu adalah sosokmu, Kang, orang yang sejak tadi kunanti. Perasaan lega dan bahagia sesaat hinggap di hati. Namun, saat lampu 5 watt menyinari sosok itu, kecewalah hatiku karena ia bukanlah dirimu. Laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah pak RT itu datang dengan wajah penuh gelisah. Nafasnya tersengal sehabis berjalan tergesa-gesa.

“Ada apa pak RT datang malam-malam begini ke rumah saya?” tanyaku segera. Ada rasa khawatir yang merasuk. Khawatir ada kabar buruk, terutama kabar tentangmu.

Sesaat kubiarkan pak RT mengatur nafasnya.

“Su.. suamimu…” katanya masih tersengal.

“Ada apa dengan suami saya pak RT?” khawatir semakin membuncah di hatiku.

“Su.. suamimu… kecelakaan tadi sore. Ia ter… tertabrak truk. Saksi mengatakan ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.” Jelas pak RT dengan terbata-bata.

Petir menyambar hati ini. Oh, betapa aku tak kuasa lagi menopang tubuhku saat itu. Kurasakan dunia tak lagi nampak di mataku. Semuanya kosong. Lalu gelap.

Saat kubuka mataku, telah ramai orang mendatangi rumah kontrakan sempit ini, Kang. Kepalaku benar-benar terasa pusing. “Ada apa ini? Mengapa banyak orang di sini?” batinku. Seorang ibu memelukku sambil menangis. “Sabar ya.” Itulah yang dia ucapkan. Saat itu aku ingat, Kang. Aku ingat berita itu. Kau tak akan pernah lagi pulang membawa senyuman untukku dan Ratih. Kau pulang untuk terakhir kalinya dalam keadaan kaku terbungkus kain kafan. Sesak dada ini, melihatmu datang tanpa senyuman menghiasi wajahmu.

Kupeluk Ratih yang menangis. “Bu, bapak kenapa? Kok Ratih panggil-panggil tidak menjawab?” Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Oh Tuhan, ia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan ini.

Orang-orang di sekelilingku berusaha menghibur dan menenangkanku. Dalam hati kuberkata, ”Aku tak sanggup, Kang. Mengapa kau tega meninggalkanku?”

Saat tiba waktunya kau dibawa pergi, aku masih sangat berat untuk melepasmu. Tapi akhirnya kupasrahkan semuanya pada Sang Pemilik Semesta. Dialah yang lebih berhak atasmu. Kulihat kereta beroda manusia membawamu menuju rumah yang sebenarnya. Rumahmu kini bukan rumah kontrakan lagi. Ialah rumah Tuhan Yang Maha Agung.

Selamat jalan, Kang. Semoga kau tenang di sisiNya.

Sehari setelah pemakamanmu, seorang laki-laki paruh baya mendatangi rumah kita, Kang. Ia membawa sejumlah uang dan menyerahkannya padaku. Orang itu berkata uang ini ditemukan di saku celanamu saat kau tertabrak. Dua ratus ribu rupiah. Oh, akangku tersayang, kau tepati janjimu. Kau telah dapatkan uang untuk membayar SPP Ratih. Entah bagaimana susahnya kau dapatkan uang ini. Aku yakin kau telah bekerja keras. Tetapi, mengapa hanya uang ini yang kembali, sedangkan kau tak akan pernah pulang lagi. Apalah arti uang ini jika harus kehilanganmu, Kang.

Beberapa hari aku dan Ratih hidup dari belas kasihan tetangga. Aku bersyukur di kota yang penuh sesak ini masih ada orang yang mau peduli pada sesamanya. Namun akhirnya, aku mulai menata kembali hidupku. Aku tak mau berlarut-larut meratapi kepergianmu. Apalagi aku masih punya Ratih. Dialah obat bagi kesedihanku. Aku akan menjaga dan membesarkannya sepenuh hati. Aku pun akan berusaha agar ia bisa terus bersekolah. Ia harus menjadi orang yang sukses supaya tak lagi ada air bening yang menetes dari mata indahnya. Mata indah yang selalu mengingatkanku akan dirimu.

Kang, setahun terakhir ini, aku dan Ratih hidup dari penghasilanku menjahit. Nafkah terakhirmu itu setelah dipotong SPP Ratih, sisanya ditambah pinjaman tetangga, kugunakan untuk membeli mesin jahit. Untungnya dulu di desa aku pernah belajar menjahit pada Bu Susanti, guru Tata Busana di SMP. Alhamdulillah, hasilnya cukup untuk hidup kami berdua. Kau tak usah risau lagi, Kang. Kami baik-baik saja di sini. Kuyakin kau pun baik-baik saja di sana.

Akhirnya, kuakhiri surat ini teriring rasa rindu untukmu. Selalu untukmu, Kang.

 

Istri yang selalu merindukanmu

 

Lasmi melipat lembaran kertas yang kini penuh dengan tulisan tangannya. Beberapa di antaranya basah oleh tetesan air bening yang membuat beberapa huruf sulit dibaca. Dimasukkannya surat itu ke dalam amplop yang telah berperangko. Sejenak Ia menatap amplop yang kini telah gemuk berisi beberapa lembar kertas. Bingung. Apa yang harus ia tulis di bagian alamat tujuan. Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia tuliskan beberapa kata di situ.

Kepada :

Akang

di Taman Surga

Aku masih ingat betul betapa indahnya kampung kita. Dulu. Dulu, saat asap dan abu itu belum mengepul dan menghujani kampung ini. Saat api dan cairan panas itu belum muntah dari perut Merapi. Gunung kebanggaan kita. Gunung yang kini hanya menyisakan serpihan pilu. Sejak meletus dua tahun silam, tak ada lagi yang tersisa dari keindahan alamnya. Sawah-sawah yang dulu hijau berubah menjadi tanah yang gosong. Pohon-pohon di hutan lindung itu pun hanya tinggal batang pohon yang hitam dikelilingi abu. Abu daun-daun, abu rumah-rumah, abu manusia-manusia.

Tunggul Arum, nama kampung kita. Letaknya di desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Berada di kawasan barat lereng Merapi membuat keindahan panoramanya tak perlu diragukan lagi. Aneka flora dan fauna tumbuh makmur di sana, ditambah tempat-tempat sakral seperti : Gua Semar, Kedung Cuwo, Sendang Pancuran, Pring Wali, dan Batu Tunggang membuat siapapun akan betah berada di sini. Di kampung kita.

Aku pun masih ingat betul, saat pertama aku melihatmu. Bocah laki-laki yang kutemui saat Merti Bumi. Ya, Tunggul Arum selalu melaksanakan tradisi ini. Romoku berkata tradisi ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan nikmatNya kepada masyarakat dusun. Sesuai namanya, Merti Bumi berarti memetri (memelihara) Bumi (tanah), menjaga dan melestarikan dengan sebaik mungkin. Tradisi ini dilakukan setiap bulan Sapar penanggalan Jawa. upacara bersih dusun yang merupakan tradisi warisan leluhur dari waktu ke waktu. Telah bertahun-tahun, Romo dipercaya memimpin prosesi adatnya.

Tradisi Merti Bumi diawali pengambilan air suci dari empat sumber yaitu dari padukuhan Tunggul Arum, padukuhan Manggungsari, padukuhan Kembang dan padukuhan Dadapan. Air suci itu kemudian dibawa ke Balai Desa Wonokerto dan dibawa keliling desa dengan gunungan salak dan tumpeng menuju lapangan Tunggul Arum. Aku tak pernah ketinggalan mengikuti iring-iringan gunungan dan tumpeng itu. Orang-orang desa membawa pula hasil bumi seperti sayur dan buah. Iringan musik gamelan semakin menambah suka cita. Sampai di lapangan, gunungan dan tumpeng serta hasil bumi lainnya akan didoakan. Romo pun memimpin kenduri itu. Setelah selesai didoakan, saat yang kutunggu-tunggu pun tiba. Gunungan salak dan hasil bumi serta tumpeng itu diperebutkan masyarakat dusun demi mengharap berkah. Lapangan Tunggul Arum mendadak riuh oleh teriakan orang-orang. Dengan tubuhku yang kecil ini, membuatku mudah menelusup di antara tubuh orang-orang yang berdesak-desakan itu. Aku berhasil mendapatkan 3 buah salak. Akan kumakan bersama Romo nanti.

Lagi-lagi aku masih ingat betul, saat berjalan pulang membawa 3 buah salak, tampak seorang bocah laki-laki menghampiriku. Ia membawa beberapa ikat sayur dan memberikannya kepadaku. Merasa tak kenal, aku menolaknya. Namun, bocah itu memaksa. “Ambilah dan masakkan untukku!” Ia lantas pergi tanpa mengucapkan nama agar aku mengenalnya. Itulah pertama kali aku melihatmu.

Hari berikutnya, aku datang ke lapangan ini membawa nasi dan sayur yang telah kumasak. Aku memang gadis cilik, tapi aku sudah memasak untuk Romo sejak ibu meninggal saat usiaku 6 tahun. Aku menunggu hingga senja, namun tak tampak sosok dirimu hadir disini. Aku pun pulang membawa nasi dan sayur yang telah dingin. Esok harinya, aku datang lagi ke tempat ini. Nihil. Hingga di hari ketiga, kau datang dengan hiasan senyum di wajahmu. Nasi dan sayur yang kubawa kau makan dengan lahap. “Kowe pinter masak.” Kata-kata itu terucap setelah suapan yang terakhir. Usai makan barulah kita saling bicara. Dan saat itulah kutahu namamu Aryo.

Lapangan Tunggul Arum ini tersisa serpihan kenangan saat bersamamu. Disanalah aku biasa menemanimu menggembala kerbau. Dari pohon jambu di pinggir lapangan itu kita mengawasi kerbau-kerbau melahap rumput yang tumbuh hijau. Sambil menikmati buah jambu yang merah ranum, canda tawa kita membahana mengisi kesunyian di hari yang panas musim kemarau. Anak-anak di desa ini memang sudah dari kecil menggembala kerbau. Apalagi hiburan bagi kami selain kerbau-kerbau itu.  Sebagai bocah gunung yang tidak mengenyam pendidikan lebih dari sekolah dasar, kerbau menjadi lahan pekerjaan setelah lulus. Kerbau adalah aset berharga bagi keluarga petani. Walau kini jaman sudah mengubah kerbau menjadi traktor, tetapi petani-petani di desa ini masih mempertahankan tandur tradisional. Bagi mereka, penting untuk bisa nguri-uri warisan yang sudah turun temurun mengikat mereka. Memang ada beberapa yang telah mengikuti jaman, namun itu bisa dihitung dengan jari.

Hampir delapan tahun sejak itu. Dan masih aku ingat betul, sejak senja di tanggal 11 bulan ke 3, aku tak lagi melihat sosokmu. Hari itu, terakhir kalinya kita menggembala bersama. Tanpa ucapan pamit, kau tinggalkan aku sendiri. Pohon jambu ini pun tampak layu tanpa kehadiranmu. Tanah lapang ini begitu sunyi tanpa gelak tawamu yang selalu membuatku bahagia. Hanya satu kalimat yang kau ucapkan saat kita berpisah di ujung jalan itu. “Sri, aku akan pergi ikut Romoku ke kota.” Tak sepatah katapun aku ucapkan. Tubuhku mendadak kaku. Aku masih berdiri mematung, saat kau balikkan tubuhmu pergi ke arah rumahmu di ujung timur desa ini. Hari itu aku memang hanya bocah cilik yang tak mengerti arti cinta, namun saat itu aku merasa begitu kehilangan sosok lelaki yang kuimpikan kelak menjadi suamiku.

Ya, delapan tahun telah berlalu sejak itu. Tak ada surat tak ada kabar darimu. Yang kutahu dari simbahmu, kau melanjutkan pendidikan di kota. Memang masih aku ingat betul, kau pernah berkata, “Aku ingin jadi insinyur, Sri. Jadi, maukah kau menungguku?” Apa mimpimu itu yang membuatmu meninggalkanku seperti ini? Aku masih terus menunggu, hingga datang seseorang meminangku. Namun bukan dirimu. Dia laki-laki yang juga kukenal sejak usiaku 15 tahun. Namun tak seperti kukenal dirimu dengan segala kesahajaanmu.

Romo adalah seorang abdi ndalem Keraton Yogyakarta. Ia selalu patuh dan setia pada hukum tradisi yang selama ini masih dilestarikan baik di lingkungan Keraton maupun di Tunggul Arum. Tugasnya adalah melayani menantu Sri Sultan, Kanjeng Surodiningrat. Aku sering diajak Romo ke kediamannya. Keraton berbeda dengan Tunggul Arum. Di sana segala sesuatu begitu teratur, tertib, dan bersih. Hanya satu yang tak kusuka dari tempat itu. Sunyi. Strata dan kasta begitu mencolok. Tak seperti Tunggul Arum yang selalu ramai dengan gelak tawa bocah-bocah gunung yang asyik duduk di punggung kerbau mereka. Tak ada strata ataupun kasta yang membedakan.

Namun, aku bersyukur Kanjeng Surodiningrat bersikap baik kepada abdi-abdinya. Lebih-lebih pada Romo. Karena kebaikan hati Kanjeng Surodiningrat, aku bisa terus bersekolah. Romo pernah bercerita tentang niat baik Kanjeng Surodiningrat membiayai pendidikanku.

Anakmu si Sri kae ayu tenan. Bocahe uga pinter. Eman-eman nek upamane mung ana ndusun. Adoh kawruh, adoh srawung.”[1]

Kados pundi malih, Ndara. Dalem niki namung abdi. Mboten gadah kuwaos napa-napa. Sri punika lare manut. Nrima punapa kahananipun tiyang sepuh.”[2]

Mendengar jawaban Romo, agaknya Kanjeng Surodiningrat semakin mantap membebaskanku dari kebodohan. Aku dan Romo berhutang banyak pada keluarga menantu Sultan itu. Seandainya ada batangan emas sebesar Merapi, itupun tak cukup untuk membalas kebaikannya.

Suatu malam Romo memanggilku duduk berbincang di teras rumah. Setelah perbincangan ringan, Romo mengatakan sesuatu dengan wajah berubah serius, “Nduk, Romo iki abdi ndalem. Romo terikat dengan dawuhe Kanjeng Surodiningrat. Jadi, Romo mohon kamu bisa mempertimbangkan posisi Romo. Kita ini hanyalah wong cilik yang hidupnya tergantung dening kuwasane Pandita Ratu. Jadi, tolong pikirkan matang-matang tentang niat baik Raden Joko Surodiningrat meminangmu.”

Usai perbincangan malam itu, aku hanya berdiam diri di kamar. Kamar ini terasa pengap seakan tak cukup lagi udara untukku bernafas. Entah berapa tetes butiran air bening membasahi kainku. Apa yang semestinya kulakukan? Dan lagi-lagi kau tak di sisiku.

Ya, Raden Joko Surodiningratlah yang telah meminangku. Namun hingga kini aku belum menemukan jawaban mengapa ia meminang gadis desa yang miskin sepertiku? Mengapa pula Kanjeng Surodiningrat mau menyetujui? Walaupun kini statusku sarjana, tapi bukankah aku masih berdarah rakyat jelata? Aku bisa sarjana itupun karena belas kasihan Kanjeng Surodiningrat. Aku benar-benar tidak mengerti semua ini. Adakah ketulusan dari rencana ini?

Aku tentu masih ingat betul, Suatu pagi di hari Minggu, Romo mengajakku berkunjung ke Keraton. Seperti biasa, sementara Romo melaksanakan tugasnya, aku diperbolehkan berjalan-jalan menikmati keindahan Keraton. Saat berjalan menyusuri komplek Kasatrian, tampak olehku seorang anak laki-laki duduk di tepi kolam. Pakaiannya bagus, batik halus berwarna cerah. Pikirku pastilah ia anak seorang bangsawan. Langkah kakiku tak berhenti, terus berjalan walau mataku sejak tadi telah berhenti pada sosok yang diam itu. Wajahnya terlihat murung. Kuhentikan langkahku. Sejenak berpikir, dan kulangkahkan lagi kedua kakiku. Namun, tak lagi ke arah tujuan semula. Langkah kakiku menuju sosok yang muram itu. Agaknya, sosok yang kuhampiri itu menyadari kedatanganku. Langkahku kembali terhenti saat sepasang mata yang jernih itu menatapku. Sesungging senyum menyambutku. Sepertinya ia senang dengan kedatanganku. Ia tak menganggapku orang asing walaupun kenyataannya memang begitu. Aku kembali melangkahkan kakiku mendekatinya. Lalu duduk di sampingnya. Memandang ke arah kolam berwarna keemasan tertimpa matahari pagi yang hangat. Perbincangan dimulai. Dan barulah kutahu, ia putra Kanjeng Surodiningrat.

Walaupun terpaut umur 6 tahun, persahabatanku dengan Raden Joko Surodiningrat cukup erat. Kata Romo, Raden Joko selalu menanyakan kapan kedatanganku ke keraton lagi. Setiap kedatanganku ia sambut dengan gembira. Ia selalu senang menyimak cerita-ceritaku tentang Tunggul Arum. Kuceritakan pula tentang dirimu. Pertemuan dan Kepergianmu.

Dan kini, aku harus menghadapi pilihan yang sulit. Cinta dan balas budi. Mana yang harus kupilih? Sampai detik ini, aku terus menunggumu. Menunggu teman sekaligus kekasih hati yang lama menghilang. Tapi sampai kapan? Saat kusadari itu hanya akan sia-sia, maka tlah aku putuskan jawabanku. Kupilih balas budi.

Lalu, apa yang aku dapat? Kemewahan? Kekuasaan? Kebahagiaan? Semua itu omong kosong. Persahabatan menjadi cinta terbukti tak selamanya sejati. Raden Joko yang kini suamiku, tak lagi pernah menyentuhku. Tak lagi sempat bersama menikmati hangatnya mentari pagi di tepi kolam. Ia terlalu sibuk dengan kekuasaan dan bermewah-mewah. Aku hanyalah pemuas nafsu saja. Terkadang aku layaknya pajangan dinding yang tak dihiraukan. Saat itulah baru kusadari, bangsawan dan jelata tak bisa benar-benar dileburkan.

Saat-saat kesendirianku. Berteman kesunyian. Terbayang pancaran wajahmu menyunggingkan senyum. Senyum yang sama seperti saat pertama takdir Tuhan mempertemukan kita. Senyum yang selama lebih dari 20 tahun ini aku rindukan. Senyum dari sosok yang sampai detik ini tak kutemukan bayangannya.

Tahukah kau, hingga kini aku masih menunggumu. Biarlah pilihan hidupku salah, asalkan pilihan hatiku selalu benar. Aku memilihmu untuk mengisi relung hatiku. Entah kau tahu atau tidak. Entah kau akan kembali atau tidak. Aku akan terus menunggu. Hingga senja yang menutup usia.


[1] Anakmu si Sri sangat cantik. Pintar pula. Sayang kalau hanya tinggal di dusun. Jauh ilmu, jauh pergaulan.

[2] Mau bagaimana lagi, tuanku. Saya ini hanyalah abdi (pelayan). Tidak punya kekuasaan (harta). Sri itu anak penurut. Menerima apapun keadaan orang tuanya.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari bantuan dan peran orang lain. Contohnya untuk mendapatkan makanan kita membutuhkan seorang petani untuk menanam bahan pangan, saat ingin membangun rumah juga diperlukan bantuan orang lain, ketika sakit kita membutuhkan bantuan seorang dokter untuk mengobati, dan sebagainya. Tidak mungkin kita bisa melakukan semua hal sendiri. Dalam Q.S Al Hujurat : 13 yang artinya :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia tidak sendiri, namun diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tak lain agar saling mengenal. Banyaknya suku dan bangsa yang ada di dunia ini, menjadikan persoalan hidup manusia semakin kompleks. Oleh karena itu manusia harus saling bekerja sama dalam berbagai bidang. Hal ini selain pekerjaan menjadi ringan, juga lebih memudahkan dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga lebih cepat selesai.
Karena manusia hidup dengan manusia lain, maka perlunya membina hubungan baik dengan orang lain merupakan salah satu syarat terciptanya hidup yang damai dan harmonis. Dalam sebuah organisasi selain diperlukan kerja sama antara pimpinan dan pengurus, juga sangat penting untuk membina hubungan baik dengan pihak eksternal yakni organisasi lain. Di sinilah arti penting mempelajari tentang Public relations.
Dalam sebuah perusahaan, peran seorang Public relations sangatlah penting terutama dalam membina hubungan baik dengan masyarakat (konsumen). Para staf PR dituntut untuk lebih mampu menjadikan orang lain memahami sesuatu pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga atau perusahaan yang diwakilinya. Maka dari itu, PR harus memiliki keahlian berkomunikasi dengan baik dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi. Dengan keahlian yang dimilikinya maka public relations kini menjadi sebuah profesi yang profit. Seorang jurnalis, Ivy Ledbetter Lee, membentuk biro konsultasi PR pertama di Amerika Serikat. Setelah kemunculan biro konsultasi Ivy, kebutuhan akan PR semakin mencuat pada dekade 1920-an dan 1930-an hingga kini.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dikaji mengenai public relationss. Makalah ini disusun untuk memberikan sedikit gambaran dan penjelasan mengenai profesi dan kegiatan-kegiatan public relationss.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana public relations sebagai profesi?
2. Apa saja kegiatan seorang public relations?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan profesi public relationss.
2. Menjelaskan kegiatan-kegiatan public relations.
PEMBAHASAN

A. Pengertian Public relations
Public relations sering kali diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat. Hal ini sebenarnya kurang tepat. Terjemahan relations menjadi “hubungan” bisa dikatakan tepat, tetapi terjemahan public menjadi “masyarakat” kurang tepat, sebab “masyarakat” mengarah ke pengertian society, sedangkan sasaran kegiatan public relations bukan seluruh manusia yang mendiami suatu wilayah di sebuah negara.
Pengertian public ditinjau dari aspek geografis, publik adalah orang-orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat, baik tempat itu merupakan daerah seluas wilayah negara, provinsi, kota, kecamatan ataupun desa. Sedangkan dari aspek psikologis, publik adalah sejumlah orang yang sama-sama menaruh perhatian terhadap suatu hal atau kepentingan yang sama tanpa ada ikatan dengan tempat mereka berada. Jadi, kelompok-kelompok orang dalam suatu masyarakat yang secara bersama-sama terikat oleh suatu kepentingan yang sama itulah yang dinamakan publik dalam konteks public relations.
Menurut Frank Jefkins public relations yaitu
Semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.

Edward L. Bernays sebagai bapak profesi PR, mengartikan PR sebagai sebuah profesi yang berkaitan dengan relasi-relasi satu unit dengan publik atau publik-publiknya sebagai relasi yang mendasari berlangsungnya kehidupan.
Dari perspektif ilmu komunikasi, Melvin L. DeFleur dan Everrete E. Dennis mengemukakan bahwa public relations sebagai proses komunikasi di mana individu atau unit-unit masyarakat berupaya untuk menjalin relasi yang terorganisasi dengan berbagai kelompok atau publik untuk tujuan tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa public relations adalah suatu kegiatan komunikasi yang ditujukan baik kepada intern publik (lembaga/perusahaan) maupun ekstern publik (lembaga/perusahaan) agar dapat tercapai tujuan demi citra lembaga/perusahaan.

B. Public Relations sebagai Profesi
Public relations kini telah menjadi suatu keahlian yang dibutuhkan di berbagai lembaga/perusahaan. Seorang praktisi public relations dituntut untuk mampu mengerjakan banyak hal. Ia harus bisa menjadi seorang komunikator, seorang penasehat, dan sekaligus seorang perencana yang baik. Ia harus mengetahui benar tentang seluk beluk organisasi dan mampu mewakilinya dalam berbagai kesempatan atau keperluan. Pentingnya peran public relation sangat menunjang kemajuan lembaga/perusahaan. Oleh karena itu, dalam sebuah lembaga/perusahaan terdapat divisi atau departemen tersendiri bagi public relations. Departemen tersebut terdiri dari manager PR, sekretaris, serta staf-stafnya.
Contoh struktur Departemen Public Relation sebagai berikut :

Manajer PR sebagai pimpinan tertinggi dalam Departemen Public Relations selain bertanggung jawab atas segala kegiatan PR, juga bertugas menciptakan dan memelihara citra baik perusahaan, memantau pendapat eksternal tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan, dan kepentingan-kepentingan perusahaan, memberikan nasihat kepada pihak manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi yang penting, dan menyediakan informasi kepada khalayak perihal kebijakan organisasi, kegiatan, produk, jasa, personalia, dan sebagainya.
Sebagai suatu profesi, public relations makin kokoh karena menyatu dengan masyarakat. Walaupun begitu, di masa mendatang profesi ini akan menghadapi banyak tantangan isu-isu krusial yang harus diselesaikan. Di lain pihak, tantangan tersebut akan menjadi peluang bagi profesi public relations untuk lebih membumi.
Mengingat kompleksnya persoalan, profesi public relations tidak dapat berjalan sendiri. Public relations harus dapat bekerja sama dengan bagian/divisi-divisi lain di perusahaan

C. Kegiatan-kegiatan Public Relations
Profesi Public relationss bisa dikatakan mirip dengan profesi humas (hubungan masyarakat). Namun sebenarnya ada perbedaan antara public relationss dengan humas.
Kegiatan seorang humas antara lain merancang pesan tematik agar pesan yang disampaikan oleh organisasi memiliki keseragaman/keterkaitan pesan, melakukan segmentasi media (seimbang antara media cetak dan elektronik), melakukan komunikasi interaktif contohnya rubrik konsultasi atau jasa layanan konsumen melalui telepon, menjaga reputasi perusahaan dan citra produk melalui pemanfaatan kekuatan pesan atau kombinasinya, pemasaran dari mulut ke mulut, dan melakukan komunikasi yang akrab dengan pelanggan.
Dari beberapa kegiatan humas tersebut terlihat bahwa tugas humas hanya meliputi hubungan dengan pihak eksternal yakni dengan masyarakat/konsumen. Hal ini berbeda dengan profesi public relationss karena public relationss tidak hanya bertugas menciptakan hubungan baik dengan masyarakat (ekstern) tetapi juga harus dapat menciptakan hubungan baik antara pihak di dalam (intern) lembaga/perusahaan.
Permintaan jasa konsultasi public relationss yang handal sangat tinggi. Seorang praktisi public relationss seringkali dianggap sebagai dewa penyelamat dan diharapkan mampu menciptakan keajaiban. Oleh sebab itu, seorang pejabat/praktisi public relationss dituntut untuk selalu belajar, tekun dan pandai menyesuaikan diri.
Kemampuan dan keahlian mutlak diperlukan agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Dalam menjalankan tugasnya, praktisi public relationss harus memiliki keahlian-keahlian antara lain :
1. Mampu dengan baik menghadapi semua orang dengan berbagai macam karakter dan sifat. Artinya, mampu dan berusaha memahami dan bersikap toleran kepada orang yang dihadapinya.
2. Mampu berkomunikasi dengan baik, artinya mampu menjelaskan segala sesuatu dengan jernih, jelas dan lugas, baik secara lisan maupun tertulis, bahkan secara visual.
3. Pandai mengorganisasikan segala sesuatu. Artinya, mampu merencanakan segala sesuatu dengan prima.
4. Memiliki integritas personal, baik dalam profesi maupun di dalam kehidupan pribadinya.
5. Memiliki imajinasi. Artinya, memiliki daya kreatifitas yang baik dan mampu menemukan cara-cara untuk memecahkan masalah.
6. Kemampuan mencari tahu. Artinya harus memiliki akses informasi seluas-luasnya.
7. Mampu melakukan penelitian dan mengevaluasi hasil-hasil dari suatu kegiatan/program.
Keahlian-keahlian tersebut sangat diperlukan untuk melaksanakan berbagai tugas dan pekerjaan public relationss.
Harold Oxley menguraikan tugas-tugas public relationss sebagai berikut :
1. Memberi saran kepada manajemen tentang semua perkembangan internal dan eksternal yang mungkin mempengaruhi hubungan organisasi dengan publik-publiknya.
2. Meneliti dan menafsirkan sikap publik untuk kepentingan organisasi atau antisipasi sikap publik terhadap organisasi.
3. Bekerja sebagai penghubung antara manajemen dan publik-publiknya.
4. Memberi laporan berkala kepada manajemen tentang semua kegiatan yang mempengaruhi hubungan publik serta organisasi.
Kegiatan-kegiatan di Departemen Public Relations meliputi pekerjaan-pekerjaan (dari a sampai z) yang harus dilakukan oleh manajer public relationss dan para stafnya yaitu :
(a) Menyusun dan mendistribusikan siaran berita (news release), foto-foto dan berbagai artikel bagi kalangan media massa.
(b) Mengorganisasikan konferensi pers, acara-acara resepsi dan kunjungan kalangan media massa ke organisasi/perusahaan.
(c) Menjalankan fungsi sebagai penyedia informasi utama.
(d) Mengatur acara wawancara antara kalangan pers (media cetak), radio dan televisi dengan pihak manajemen.
(e) Memberikan penerangan singkat kepada fotografer, serta membentuk dan mengelola sebuah perpustakaan foto.
(f) Mengelola berbagai bentuk materi komunikasi internal seperti kaset rekaman video, slide presentasi, dan sebagainya.
(g) Menyunting serta memproduksi jurnal-jurnal eksternal untuk konsumsi para distributor, pemakai jasa/produk perusahaan, konsumen langsung, dan sebagainya.
(h) Menulis dan membuat bahan-bahan cetakan seperti literatur pendidikan, sejarah perusahaan, laporan tahunan, literatur pelantikan pegawai baru.
(i) Mempersiapkan berbagai bentuk instrumen audio-visual, seperti menyusun lembaran slide dan kaset rekaman video.
(j) Mempersiapkan dan mengatur acara pameran dan menjalankan eksibisi public relationss.
(k) Mempersiapkan dan memelihara berbagai bentuk identitas perusahaan seperti logo perusahaan. Pengaturan jenis kendaraan dinas, pakaian seragam pegawai, dan sebagainya.
(l) Menangani berbagai acara sponsor yang berhubungan dengan kegiatan public relationss.
(m) Mengelola hal-hal yang berkaitan dengan berbagai kunjungan seperti fasilitas penerbangan/pelayaran, pengurusan tiket, akomodasi, dan lain-lain.
(n) Mengikuti rapat-rapat penting yang diselenggarakan oleh dewan direksi dan pimpinan perusahaan.
(o) Mengikuti konferensi khusus yang diadakan oleh divisi penjualan, dan terlibat dalam pertemuan-pertemuan para agen.
(p) Mewakili perusahaan pada pertemuan asosiasi dagang/bisnis.
(q) Berhubungan dengan konsultan public relationss eksternal jika perusahaan/organisasi merekrut mereka.
(r) Melatih segenap staf public relationss.
(s) Mempersiapkan survei-survei pendapat dan berbagai macam penelitian lainnya.
(t) Mengawasi tugas-tugas periklanan (berhubungan dengan biro iklan) bila fungsi periklanan memang dibebankan kepada departemen PR.
(u) Berhubungan baik dengan kalangan politisi dan birokrat.
(v) Mengatur penyelenggaraan acara-acara resmi.
(w) Mengatur acara-acara kunjungan para pejabat penting dan tamu kehormatan.
(x) Mengadakan perayaan perusahaan, pemberian penghargaan pemerintah kepada perusahaan.
(y) Mengorganisasikan berbagai umpan balik dari berbagai sumber informasi mulai dari kliping koran/majalah, berita-berita radio dan televisi serta memantau berbagai laporan dari luar.
(z) Menganalisis umpan balik dan mengevaluasi hasil dari upaya untuk mencapai tujuan.
Segenap kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara terpadu dalam program public relationss yang tersusun dan terencana sebelumnya. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pimpinan (manajer) public relationss dengan para stafnya.
D. Penelitian Public Relation
Salah satu tugas praktisi public relations adalah mempertahankan citra baik lembaga/perusahaan di mata masyarakat/publik. Agar dapat mempertahankan citra perusahaan/organisasi seorang praktisi public relations harus giat melakukan penelitian-penelitian berkaitan dengan public relations.
Dalam sebuah penelitian public relations (public relations research) terdapat metode analisis citra (image analysis). Menurut Philip Kotler, secara garis besar citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap suatu obyek tertentu.
Untuk mengukur penilaian atau pengetahuan khalayak terhadap obyek tertentu dilakukan dengan memodifikasi “analisis citra dan pengukuran tanggapan khalayak” yang dikenal dengan “perbedaan semantic”. Selain itu terdapat beberapa model pengukuran yaitu :
1. Model Grid Analysis Citra (tanggapan khalayak)
2. Analisis Model Skala Pengenalan (familiarity scale)
3. Model Kenal Suka (favorability scale)

E. Kesimpulan
Public relations memiliki peran penting bagi suatu lembaga/perusahaan. Penting adanya bagian (divisi) khusus bagi praktisi public relations agar dapat mempertahankan citra perusahaan. Profesi public relations sering disalah artikan sebagai humas dan juga bagian pemasaran. Padahal, profesi sebagai seorang praktisi public relation lebih mulia dan lebih penting bila dibandingkan dengan humas dan pemasaran. Public relations-lah yang membuat lembaga/perusahaan dikenal oleh khalayak dan membuat citra perusahaan baik di mata khalayak.

DAFTAR PUSTAKA

Departeman Agama. 2005. Al Jumanatul ‘Ali Al Qur’an dan Terjemahannya, Penerbit J-Art.
Effendi, Onong Uchjana. 2006. Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis, cet VII. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Iriantara, Yosal. 2004. Community Relations Konsep dan Aplikasinya. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Jefkins, Frank. 2004. Public relations, edisi V, Jakarta : Erlangga.
Ruslan, Rosady. 2004. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. cet 2. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
elqorni.wordpress.com/2008/04/24/profesi_public_relations, diakses tanggal 10 Oktober 2011 pkl 20.25 WIB.
Id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_masyarakat, diakses tanggal 9 Oktober 2011 pkl. 17.05 WIB.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.